MAMA, KENAPA DIA SUDAH PUNYA PACAR??!!

ayuuuuuuu

Mama, Kenapa Dia Sudah Punya Pacar?!!

Original Created by Hayuno Sakura

Edited by Nene
(Penullis novel Newt Project, Cendawan, dmbl)

               Setiap kali akan pulang ke Jakarta, gairahku membuncah. Kuliah di Purwokerto pada fakultas kedokteran gigi dengan kegiatan super padat menjadikan aku hanya bisa pulang satu semester sekali. Enam bulan itu terasa lama, karena aku yang anak mama ini mengalami home sick setiap weekend. Aku selalu kangen mama dan berharap selalu dekat dengannya. Tak heran jika tiba waktunya liburan, aku sangat bahagia.

Malam itu aku datang ke stasiun lebih awal, duduk manis di kursi tunggu karena kereta akan datang dalam tiga puluh menit.

“Hai..” seseorang menyapaku. Aku mendongak, menyipitkan mata ketika menatap sosok cowok yang memakai jaket angkatan 2011. Aku mengenali jaket itu karena aku juga memilikinya. Itu artinya dia satu angkatan denganku di kedokteran gigi meski tidak pernah melihatnya di kampus.

“Kamu Yuki, kan?” ia kembali bertanya, kali ini sembari duduk ketika aku tak kunjung membalas sapaannya.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Merasa heran karena dia tahu namaku. Aku berpikir untuk bertanya tapi mendadak pesan Mama menggema di kepalaku.

Yuki, setiap kali bepergian, jangan bicara dengan orang asing kecuali petugas keamanan setempat. Jangan menerima makanan dan minuman apapun. Terakhir, jangan menatap matanya.

Aku segera berpaling, menatap mata orang asing adalah bahaya.

“Kamu mau pulang? Beberapa kali sebenarnya kita ketemu di kereta setiap liburan semester seperti ini. Oya, aku Kei. Kita satu angkatan tapi aku di kelas D.” lanjut cowok itu masih mempertahankan intonasi suaranya yang renyah. Tak terganggu meskipun aku tidak mengacuhkannya.

Penasaran juga, aku menatap wajahnya, dan masih tetap tidak familiar. Akhirnya kubuka mulutku, “Kamu tahu namaku? Kayaknya aku nggak populer deh di kampus kita.”

Kei tertawa. Aku tak menyangka suara tawa itu begitu enak didengar, membuat sesuatu yang aneh merambati hatiku seketika.

“Aku pernah melihat foto-foto kamu di papan pengumuman. Juara pertama lomba karya tulis ilmiah dari UKM Riset dan Penalaran. Itu keren.” ucapnya sambil tersenyum, membuat hidungku kembang kempis, tidak menyangka ada yang memperhatikan pengumuman itu.

“Makasih.” tukasku singkat, lalu kembali membuang muka. Dia tetap orang asing meskipun telah memujiku.

“Aku turun Cirebon. Kamu?” Kei kembali bertanya.

“Manggarai.” sahutku tanpa menatapnya.

“Aku di gerbong 7 kursi 13D, kamu?”

Aku menghela napas, orang ini meskipun… baiklah, ganteng, tapi bersifat kepo dan itu agak mengangguku.

“Gerbong 7 kursi 13 C.”

“Wah!, kita duduk sebelahan, dong. Ayo, sudah boleh masuk, tuh!” tunjuk Kei ke arah antrian yang mulai ramai. Aku tak punya pilihan lain, berdiri dan berjalan mengikutinya.

***

Aku tidak menghitung berapa kali naik kereta ini, tapi seingatku selalu tenang di setiap perjalanannya. Biasanya aku hanya bermain game di ponsel atau tidur. Yang kedua lebih sering kulakukan karena ini kereta malam. Aku tidak pernah ingat siapa yang duduk di sampingku, sejujurnya tak pernah peduli. Tapi malam ini lain.

“Geraham bungsu itu menentukan kedewasaan seseorang. Umur tidak bisa mutlak menjadi patokan kapan dia akan muncul. Setiap orang berbeda-beda, tergantung kondisi psikisnya, menurutku.” Kei membahas geraham bungsu ketika mendengar percakapan pasangan di seberang kami, salah satu di antara mereka mengeluh sakit gara-gara gusinya bengkak.

“Jadi, apa menurutmu dia sudah cukup dewasa untuk memiliki geraham bungsu?” tanyaku dengan suara rendah, takut pasangan itu mendengar balik percakapan kami.

Kei melirik mereka sebelum menjawab, “Sudah. Meski kelihatannya umurnya di bawah kita, dia sudah dewasa untuk menerima kehadiran geraham bungsu.”

Dengan gerakan kaku, aku ikut melirik mereka, Kei benar, mereka seperti baru saja lulus SMA. Untuk sesaat aku terdiam, merasa konyol karena sebelumnya belum pernah memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingku. Kei membuatku merasa menjadi orang lain meski baru setengah jam kami bersama.

“Geraham bungsuku tumbuh tepat ketika aku lulus SMA. Tak main-main, langsung dua-duanya. Aku sama sekali tidak bisa makan dan minum sampai harus opname di rumah sakit.” kenang Kei sambil tertawa kecil. Aku menatapnya tak percaya, bahkan di ujung terjauh gusiku belum ada tanda-tanda geraham itu akan muncul. Apa dua anak ingusan di seberang kami itu lebih dewasa dariku?

“Oh ya? Apa sangat menyakitkan?” tanyaku ngeri, tak sadar bahwa caraku duduk telah menyerong ke arah Kei.

Cowok itu mengangguk, “Banget.. karena tumbuh bersamaan. Jangan takut, kamu akan mendapatkan gerahammu satu persatu, di usia yang pas.”  Kei tersenyum misterius setelahnya, membuatku menautkan alis karena merasa dipermainkan.

“Hei… jangan nakut-nakutin, dong.” ucapanku membuatnya tertawa. Tawa yang… ah, enak sekali didengar. Aku mengamati wajahnya saat tertawa. Matanya yang bulat kekanakan menyipit, giginya yang bagus terlihat sempurna. Jantungku berlompatan di tempatnya.

“Kamu ini calon dokter gigi, masa takut sama momen tumbuhnya geraham bungsu.” ia berkomentar sambil mengeluarkan dompet lalu memanggil petugas restorasi yang lewat. Kei membeli dua kotak nasi goreng dan teh manis hangat. Tanpa persetujuanku, ia telah menyodorkan kotak itu di depanku. Aku masih ingat pesan Mama, tapi ini kasus yang berbeda. Kei membeli nasi goreng itu, jadi kupikir aman saja jika menerimanya.

Kami makan sambil ngobrol ringan. Ia bercerita tentang teman satu kosnya yang punya kebiasaan aneh yaitu ngobrol dengan laptopnya setiap malam. Pernah suatu kali laptop itu rusak dan harus menginap di tempat service komputer selama satu bulan.

“Kupikir dia akan patah hati, atau setidaknya berduka jika melihat kedekatan mereka. Tapi kamu tahu apa yang terjadi? Dia pinjam laptopku untuk mengerjakan tugas dan ternyata dia asyik ngobrol dengan laptop itu.”

“Hahahaha…” aku tertawa, nyaris tersedak ketika sebutir nasi goreng hampir menyusup ke jalan napasku. Kei menepuk-nepuk punggungku dengan cemas, “Eh, aku keterlaluan ya sampai bikin kamu tersedak.”

Aku menggeleng lalu minum untuk meredakan batukku. “Nggak, kok. Aku saja yang terlalu semangat ketawa.” tukasku tersipu malu. Sekali lagi merasa menjadi orang lain karena sebelumnya jarang sekali aku tertawa.

“Kamu lucu juga kalau lagi ketawa.” Kei memiringkan kepala untuk mencari mataku ketika mengatakannya, membuat pupil mataku membesar karena terkejut.

“Apaan, sih..” aku berusaha tenang lalu meneruskan makan, meski jantungku berguling-guling di tempatnya.

Setelah makan malam, kami kembali ngobrol seputar kegiatan di kampus, mata kuliah yang susah, dosen-dosen reseh, dan pernak pernik kampus lainnya. Kei juga bertanya tentang hobiku, apa saja yang kulakukan selain kuliah, dan sebagainya. Aku menjawab semua pertanyaan cowok itu dengan jujur, yang jika Mama mendengarnya aku pasti dibilang: bodoh. Maafin Yuki, Ma.. kali ini Yuki melanggar pesan Mama, batinku.

Tiba-tiba kereta berhenti. Aku gelagapan ketika Kei mengambil ranselnya dari bagasi di atas kami lalu mencangklongnya. Kenyataan bahwa Cirebon itu dekat membuatku kesal. Kuremas-remas ponselku dengan salah tingkah, ragu-ragu untuk meminta nomor hape Kei.

Cowok itu masih berdiri menunggu orang-orang melewatinya untuk keluar. Ia tidak  menatapku sedikit pun dan itu membuatku semakin resah. Aku ingin meminta nomor hapenya tapi benar-benar tidak punya nyali.

Kei mengambil ponsel dari saku jaketnya ketika benda itu berbunyi.

“Halo sayang? Kamu di mana? Oh, di tempat parkir. Iya kamu di situ saja nggak usah turun, biar aku saja yang ke sana. Iya, oke.. “

DHUARR!! Seolah ada petasan diledakkan di dekat telingaku. Kei baru saja menyebut kata ‘sayang’ pada orang yang meneleponnya.

“Yuki, aku duluan, ya! Sampai ketemu di kampus! Bye!” Kei melambai padaku sebelum bergegas pergi. Aku bahkan belum membalas lambaiannya. Ia pasti sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ‘sayang’nya.

Aku merosot di bangku, lemas.

Mama, seharusnya aku mengikuti nasihatmu untuk tidak bicara dengan orang asing dan menatap matanya. Lihat Ma, aku terhiptonis…

 

***

THE END