MORFOLOGI MAKROALGAE_PHYCOLOGY

REVIEW JURNAL: DESKRIPSI ALGA MAKRO DI TAMAN WISATA ALAM BATUPUTIH, KOTA BITUNG

Nama  : Chayyu Latifah

NIM    : B1J011036

Kelas   : A

Tugas  : Fikologi

kllk

Gambar 1. Memori indah Pantai Karapyak, Pangandaran-Ciamis-Jabar “1 Januari 2012”

Makroalga merupakan alga yang berukuran besar, dari beberapa centimeter sampai bermeter-meter. Alga sendiri adalah organisme yang masuk ke dalam Kingdom Protista mirip dengan tumbuhan, dengan struktur tubuh berupa talus. Alga mempunyai pigmen klorofil sehingga dapat berfotosintesis. Alga kebanyakan hidup di wilayah perairan, baik perairan tawar maupun perairan laut (Marianingsih  et al., 2013). Studi alga laut di Indonesia pernah dilakukan oleh Rumpius pada tahun 1750 di perairan Ambon. Pengkajian secara intensif dilaksanakan pada ekspedisi “Siboga” pada tahun 1899-1900 oleh Weber-Van Bosse di perairan bagian Indonesia. Ekspedisi ini berhasil mendeskripsikan 782 spesies alga makro di antaranya 196 Chlorophyta, 134 Phaeophyta dan 452 Rhodophyta.

Penelitian tentang Alga Makro di Sulawesi Utara sudah pernah dilakukan di beberapa tempat diantaranya perairan Pulau Lembeh, Selat Lembeh, dan Likupang Barat. Penelitian-penelitian sebelumnya ini lebih menekankan pada inventarisasi dan deskripsi morfologi dari alga makro. Namun penelitian alga makro di perairan Taman Wisata Alam Batuputih, Kelurahan Batuputih Kecamatan Ranowulu, belum pernah dilakukan. Khususnya mengenai keragaman, deskripsi morfologi ataupun inventarisasi alga makro. Padahal lokasi ini memiliki potensi perairan yang tinggi karena luas arealnya relatif besar, dan juga ketersediaan sumberdaya alam hayati ini dapat dimanfaatkan oleh manusia. Oleh karena itu maka infomasi-informasi yang memadai mengenai sumberdaya alam laut itu sendiri dan perairan sekitarnya sangat diperlukan. Menurut Marianingsih  et al. (2013), penelitian seperti bertujuan untuk menginventarisasi serta mengidentifikasi jenis-jenis makroalga. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi penelitian awal untuk pengembangan potensi sumberdaya laut, khususnya makroalga.

caulerpa peltataGambar 2. Contoh makroalgae

Dari hasil penelitian ini ditemukan ada 18 spesies yang termasuk kedalam 3 divisi, yaitu Rhodophyta, Chlorophyta and Phaeophyta. Terdapat 7 spesies dengan 6 familia yang termasuk divisi Rhodophyta and Chlorophyta, sedangkan division Phaeophyta hanya ditemukan 4 spesies dengan 3 familia.

Alga hijau (Chlorophyta) yang ditemukan antara lain:

  1. Caulerpa peltata dengan ciri morfologinya mempunyai talus tegak dengan permukaan stipe halus dan blade berbentuk lembaran, sedangkan model percabangan yaitu pectinate (cabang talus tumbuh pada satu sisi), sedangkan holdfast berbentuk stolon yang tumbuh tegak atau merambat di substrat, berwarna hijau, panjang stipe atau menyerupai batang. Habitat banyak ditemukan di substrat berpasir maupun menempel pada karang dan sering terdapat di zona pasang surut atau intertidal.
  2. Halimeda opuntia dengan ciri morfologinya mempunyai talus kompak, bentuk blade berupa lembaran-lembaran kecil dengan permukaan kasar. Percabangan segmen bertumpuk menjalar dan membentuk pertumbuhan baru. Segmen relatif kecil berbentuk pipih, bulat, dan bergelombang. Warna bagian bawah yang menyerupai blade biasanya berwarna putih dan bagian atas permukaan berwarna hijau tua atau hijau mudah. Tunas segmen baru terletak pada segmen utama pada bagian lekukan. Umumnya habitatnya berada pada sela-sela karang yang hidup atau mati, batu, pecahan karang dan berpasir. Holdfast menyerupai kumpulan akar serabut yang mampu melekat pada substrat maupun partikel pasir.
  3. Halimeda macrophysa dengan ciri morfologinya mempunyai talus kompak, permukaan agak kasar dengan bentuk blade berupa lembaran. Bentuk holdfast atau akar menyerupai serabut. Percabangan dari spesies ini yaitu dichotomus (bercabang dua) atau trichotomus (bercabang tiga), warna hijau tua atau hijau mudah, dimana segmen tepi berlekuk-lekuk. Habitat dari alga ini yakni pada substrat sela-sela batu karang atau menempel pada karang mati, selain itu tumbuh pada daerah pantai yang memiliki perairan yang jernih.
  4. Tydemania expeditionis dengan ciri morfologinya mempunyai talus tegak keras dan bulat, dalam talus utama lurus dengan interval 1 cm antara talus yang lain. Warna hijau tiap gulungan talus, sedangkan pertumbuhan thallinya dengan percabangan dichotomus (becabang dua) atau trichotomus (bercabang tiga). Bentuk holdfast berbentuk rhizoid. Habitatnya pada substrat karang dan berpasir, umumnya dapat ditemukan pada kedalaman 5-30 m kemudian jarang dijumpai di areal terumbu karang.
  5. Valonia ventricosa dengan ciri morfologinya mempunyai talus bulat dengan permukaan halus, berwarna hijau tua, berdinding tipis, melekat pada substrat dengan holdfast berbentuk cakram pelekat, tidak bercabang. Kebanyakan ditemukan soliter, habitatnya banyak ditemukan di zona pasang surut atau daerah intertidal. Hidupnya menempel pada batu karang atau pecahan karang. Kadang juga sebagai epifit pada tanaman lamun. Penyebarannya banyak ditemukan di perairan tropis dan subtropis.
  6. Neomeris annulata dengan ciri morfologinya mempunyai talus silinder, tabung dengan tinggi biasanya mencapai 30 mm. Alga ini memiliki permukaan halus dan licin. Bentuk holdfastnya yaitu rhizoid dan memiliki warna hijau-keputihan atau bagian ujung talus warna hijau dan bagian bawah berwarna putih, percabangan terdapat cabang utama. Habitatnya tumbuh menempel pada substrat batu, karang hidup dan karang mati.
  7. Codium arabicum dengan ciri morfologinya mempunyai talus saling berkaitan antara satu thalli dengan thalli yang lain. Permukaan lunak dan halus. Warna hijau muda atau hijau tua. Bentuk holdfast yang melekat pada substrat yaitu rhizoid. Habitatnya tumbuh menyebar di zona intertidal dan subtidal dengan substrat berkarang atau berpasir.

Alga coklat (Phaeophyta) yang ditemukan antara lain:

  1. Dictyota dichotoma dengan ciri morfologinya mempunyai talus berbentuk pipih seperti pita, dengan permukaan talus halus berwarna coklat tua. Pinggiran yang berbentuk blade atau daun yaitu bergelombang atau bergerigi dan ujung daun ada yang runcing, tumpul atau rata. Percabangan dichotomus (bercabang dua) atau trichotomus (bercabang tiga) membentuk rumpun yang rimbun. Habitat dari spesies alga ini yakni substrat berkarang, berbatu dan daerah terumbuh karang.
  2. Colpomenia peregrina dengan ciri morfologinya mempunyai talus lembaran, dengan permukaan licin, halus dan lunak fleksibel (gelatinous). Bentuk holdfast yaitu cakram sederhana, pola warna dari alga ini yaitu merah tua, merah muda atau kecoklat-coklatan. Tidak memiliki percabangan. Berimbun dan tumbuh melekat pada substrat berkarang, berbatu, berpasir dan di daerah sisi luar rataan terumbu karang yang umumnya selalu terendam air laut dan terkena ombak langsung.
  3. Hormophysa cuneiformis dengan ciri morfologinya mempunyai talus tegak, rimbun dan permukaan halus. Bentuk holdfastnya seperti cakram dan rhizoid pendek, yang melekat pada substrat. Bagian pangkal thalli menyerupai tangkai, warna coklat mudah. Percabangannya tidak beraturan dimana cabang-cabang talus tumbuh pada talus utama atau polystichous. Habitat dari spesies alga ini yaitu hidup di zona pasang surut atau zona intertidal dan bagian subtidal dengan substrat berkarang, berpasir dan berbatu.
  4. Turbinaria decurrens dengan ciri morfologinya mempunyai talus yang menyerupai stipe tegak, kasar dan terdapat bekas-bekas percabangan, sedangkan bentuk bladenya yang menyerupai kerucut segitiga dengan pinggir bergerigi dan bagian tengah blade atau daun melengkung ke dalam. Percabangannya ferticillate atau cabang-cabang talus tumbuh dengan melingkari talus sebagai sumbu utama. Holdfastnya berbentuk cakram kecil. Warna hijau tua, hijau tua dan orange.

Alga Merah (Rhodophyta) yang ditemukan antara lain:

  1. Amphiroa foliacea dengan ciri morfologinya mempunyai talus bersegmen pendek, pada bagian bawah silindris, sedangkan bagian atas agak runcing. Rimbun dengan percabangan talus dichotomus atau bercabang dua dan dapat mencapai tinggi sekitar 5-10 cm. Substansi talus keras dan rapuh mengandung zat kapur. Habitat spesies alga ini yakni substrat berkarang dan umumnya di daerah rataan terumbu karang.
  2. Actinotrichia fragilis dengan ciri morfologinya mempunyai talus bulat, keras dengan permukaan kasar. Membentuk rumpun dan rimbun, dengan percabangan dichotomus (mendua arah). Melekat pada substrat dengan alat tempel (holdfast) yang kecil berbentuk cakram. Warna merah muda, orange atau pirang.
  3. Gracilaria salicornia dengan ciri morfologinya mempunyai talus bulat, licin, berbuku-buku atau bersegmen-segmen. Alga ini biasanya membentuk rumpun. Sedangkan percabangan talusnya berbentuk polystichous atau banyak cabang pada talus utama. Bentuk holdfast yang melekat pada substrat yaitu rhizoid. Alga spesies ini memiliki warna talus hijau dan kuning di bagian apeks thalli. Habitatnya pada karang, berpasir dan di daerah rataan terumbu karang yang tumbuh menempel.
  4. Kappaphycus alvarezii dengan ciri morfologinya mempunyai talus silindris, permukaan stipe licin, dan memiliki duri lunak yang kecil yang terdapat pada cabang-cabang talus. Percabangan talus yaitu dichotomous (bercabang secara dua arah). Spesies alga ini memiliki warna merah, merah-coklat, hijau-kuning. Holdfast berbentuk cakram kecil yang melekat pada substrat. Alga makro ini biasanya ditemukan secara rumpun, untuk di bagian talus atas percabangannya mengecil dan bagian ujung runcing. Habitat umumnya tumbuh pada perairan laut yang jernih yakni pada zona intertidal dan subtidal, sedangkan substratnya umumnya yaitu berpasir, lumpur karang dan efipit pada batu.
  5. Halymenia durvillaei dengan ciri morfologinya mempunyai talus pipih, dengan permukaan licin dan lunak fleksibel (gelatinous), warna merah tua atau merah muda. Percabangan berselang seling tak teratur pada kedua sisi talus atau pinnate alternate. Pada talus bagian bawah biasanya melebar dan mengecil ke bagian puncak, sedangkan pinggiran talus bergerigi. Rumpun dan bentuk holdfastnya yaitu cakram. Substratnya yaitu pada daerah berkarang, berbatu, berpasir dan di daerah rataan terumbu karang.
  6. Halymenia dilatata dengan ciri morfologinya mempunyai talus pipih dengan pinggiran talus bergerigi dengan permukaan halus dan lunak. Bentuk holdfast yang melekat pada substrat yaitu berbentuk cakram sederhana. Sedangkan model percabangannya adalah pinnate alternate atau talus tumbuh bercabang-cabang dua sepanjang talus utama secara beraturan, rimbun. Warna dari spesies alga ini yaitu merah mudah atau merah tua. Habitatnya pada substrat karang mati dan batu.
  7. Microcladia sp. dengan ciri morfologinya mempunyai talus pipih dengan permukaan halus dan lunak, bentuk blade atau daun yaitu berbentuk lembaran dengan pinggiran bergerigi, warna merah muda atau merah tua dan kekuning-kuningan. Model percabangannya yaitu berselang seling tak teratur pada kedua sisi talus atau pinnate alternate. Holdfast atau yang menyerupai akar yaitu berbentuk cakram kecil. Habitatnya pada substrat berpasir dan berkarang.

Deskripsi bentuk morfologi tiap spesies alga makro yang ditemukan berbeda satu dengan yang lainnya, yakni bulat keras, bulat licin, bulat berambut lembut, tegak, selindris, pipih, silinder, lembaran dan spon. Permukaan talus kasar, licin dan halus. Warna talus merah muda atau tua, coklat muda dan hijau. Untuk substrat ternyata hanya 2 tipe yakni berkarang dan berpasir.

olbannerleft

Iklan

MORFOLOGI ALGA MAKRO_PHYCOLOGY

REVIEW JURNALBiodiversitas Alga Makro Di Lagun Pulau Pasige,Kecamatan Tagulandang, Kabupaten Sitaro (2013).

download

Contoh gambar alga makro

I.     MORFOLOGI DAN CIRI RUMPUT LAUT

Alga makro memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi di perairan Indonesia, sampai saat ini sudah ada beberapa yang dimanfaatkan menurut potensinya. Penelitian tentang alga makro di Indonesia dilakukan pertama kali pada ekspedisi Siboga tahun 1899-1900 yang mendeskripsi lebih dari 700 species alga makro di perairan Indonesia (Weber-van Bosse, 1928). Keanekaragaman spesies alga makro di Indonesia yang telah diketahui hingga saat ini lebih dari 1000 spesies. Namun, karena belum adanya laporan mengenai alga makro di Lagun Pasige, sehingga dilakukan penelitian oleh Agrialin Tampubolon dan kawan-kawan agar dapat memberikan informasi mengenai jenis-jenis alga makro yang berada di perairan tersebut sebagai bagian dari keanekaragaman sumberdaya perairan. Dari hasil penelitian ini ditemukan ada 9 jenis alga hijau yaitu Halimeda macroloba, Halimeda opuntia, Halimeda discoidea, Halimeda incrassata, Caulerpa lentillifera,Caulerpa racemosa, Boergesenia forbesii, Dictyospheria cavernosa, Boodlea coacta, 10 alga merah yaitu Gracilaria blodgetti, Gracilaria edulis, Laurencia papilosa, Amphiroa fragilisima, Gelidiopsis intricata, Gracilaria verucosa, Acanthopeltis sp, Hypnea sp, Amansia glomerata, Euchema denticulatum dan 2 alga coklat yaitu Padina minor, Turbinaria ornata.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey jelajah dengan luas area ± 50 X 50 m. Sampel yang ditemukan di buat dalam bentuk Herbarium lalu di identifikasi. Hasil penelitian yang dilakukan di Pulau Pasige ini adalah ditemukan jenis-jenis alga makro 21 spesies, 9 spesies alga hijau, 2 spesies alga coklat dan 10 spesies alga merah.

Alga hijau (Chlorophyta) yang ditemukan antara lain:

  1. Boergesenia forbesii dengan ciri morfologinya mempunyai talus membentuk seperti balon, bentuk talus silindris, berdinding tipis dan transparan, bagian dalamnya berisi cairan dan terlihat mengkilap. Memiliki warna hijau muda, holdfast rhizoid. Habitatnya berada pada substrat batu.
  2. Boodlea sp. dengan ciri morfologinya mempunyai talus berwarna hijau muda, berbentuk spons. Habitatnya menempel pada karang mati.
  3. Dictyosphaeria cavernosa dengan ciri morfologinya mempunyai talus Talus rimbun, tegak dan saling tumpang tindih, dengan percabangan trichotomous. Alat pelekat berupa filamen, blade berkapur, kaku, dan memiliki warna hijau. Habitat di daerah berpasir.
  4. Genus Caulerpa dicirikan dengan karakteristik Talus keras dan tebal, memiliki holdfast rhizoid pada permukaan bagian bawah talus, dalam bentuk herbarium terlihat jelas lapisan sel yang poligonal. Memiliki warna hijau. Habitatnya berada pada daerah karang mati.
  5. Genus Halimeda dicirikan dengan karakteristik talus coenocytic, genus ini berkembang baik di terumbu karang bersubstra keras. Talus Halimeda banyak mengandung kapur dan membentuk koloni-koloni atau berkelompok dan mempunyai alat perekat berupa rhizoid dan bersegmen (Barton, 1928). Pada umumnya Halimeda mempunyai bentuk percabangan yang hampir sama yaitu dichotomous dan trichotomous, bentuk segmen yang silindris dan garis permukaan utrikel yang hampir sama yaitu heksagonal dan polygonal.

Alga coklat (Phaeophyta) yang ditemukan antara lain:

  1. Padina minor dengan ciri morfologinya mempunyai talus berbentuk lamina seperti kipas, lamina yang tipis, dan talus tumbuh membentuk koloni dengan holdfast rhizoid. Memiliki garis lobus berjumlah 7-12 yang berbentuk dari blade hingga permukaan blade. Memiliki warna coklat kekuningan, habitatnya berada pada substrat berpasir.
  2. Turbinaria ornata dengan ciri morfologinya mempunyai talus lurus dan keras, bagian bawah keras. Bentuk blade agak bulat, umumnya seperti corong dan di kelilingi oleh duri yang tidak beraturan. Talus berwarna coklat gelap dan bentuk holdfast rhizoid. Habitatnya pada substrat berpasir.

Alga Merah (Rhodophyta) yang ditemukan antara lain:

  1. Eucheuma denticulatum dengan ciri morfologinya mempunyai talus tebal berbentuk silindris dan berlendir, berwarna kuning saat segar dan coklat setelah kering. Melekat dengan holdfast discoid. Memiliki percabangan dichotomous, jarak antara percabangan 2,1 mm, dengan panjang batang primer 1 mm.
  2. Gracilaria blodgettii dengan ciri morfologinya mempunyai talus berbentuk silindris, memiliki percabangan dichotomous, berwarna hijau. Panjang dari setiap percabangan 1-2 mm, jarak antara percabangan 3-8 mm. Habitatnya di substrat berpasir.
  3. Gracilaria edulis dengan ciri morfologinya mempunyai talus berbentuk silindris dengan tinggi 6 cm, holdfast discoid, percabangan dichotomous, dijumpai juga percabangan irreguler, pada bagian apeks mengecil dan melengkung, talus berwarna coklat kehijauan.
  4. Gracilaria verrucosa dengan ciri morfologinya mempunyai talus licin, silindris, berwarna kuning coklat, memiliki percabangan yang tidak beraturan, cabang-cabang lateral memanjang menyerupai rambut. Habitatnya di substrat berpasir.
  5. Gelidiopsis intricate dengan ciri morfologinya mempunyai talus rimbun, berbentuk silindris dan tebal, berukuran kecil dan tidak teratur. Pada ujung blade tidak memiliki percabangan, melekat dengan holdfast berbentuk discoid, berwarna hijau dan pada saat kering berwarna hijau tua kehitaman. Ukuran panjang batang 1,14 mm, jarak antara percabangan 3-4 mm.
  6. Hypnea sp. dengan ciri morfologinya mempunyai talus lurus, warna coklat atau kehijau-hijauan, bercabang lemah. Sepanjang talus juga terdapat rambut-rambut yang halus.
  7. Laurencia papilosa dengan ciri morfologinya mempunyai talus berbentuk silindris, padat, bentuk percabangan secara irregular, warna talus coklat, dengan panjang batang ± 1 mm. Jarak antara percabangan ± 1 mm.

Deskripsi bentuk morfologi tiap spesies alga makro yang ditemukan berbeda satu dengan yang lainnya, yakni bulat keras, bulat licin, bulat berambut lembut, tegak, selindris, pipih, silinder, lembaran dan spon. Permukaan talus kasar, licin dan halus. Warna talus merah muda atau tua, coklat muda dan hijau. Untuk substrat ternyata hanya 2 tipe yakni berkarang dan berpasir (Langoy et al., 2011).