LIVE TO WRITE TO LIVE

writer-in-park-2

TIPS MENULIS DAN MENGIRIM CERPEN

(Copyright: mayamelivyanti’s blog)

1.Menurut seorang pemimpin redaksi majalah wanita, tiap hari redaksi bisa menerima ratusan naskah cerpen, dan hal pertama yg dilihat adalah judulnya.

2. Kalau dari judulnya sudah dianggap tidak menarik oleh redaksi, maka akan langsung di delete tanpa dibaca lagi isi naskahnya.

3. Setelah dilihat judulnya menarik, baru akan dibaca oleh redaksi. Dan yang menentukan bahwa naskah itu bagus atau tidak, bisa dilihat dari paragraf pertama saja. Kalau sudah dirasa tidak menarik, ya tidak akan dibaca sampai habis, alhasil itu naskah akan di delete juga.

4. The key is in the first paragraph, it has to be ‘wow’ / kuncinya ada di paragraf pertama, harus bisa membuat kagum redaksi.

5. Naskah yang kita kirim tidak langsung dibalas dan diberi tahu masuk atau tidak. Kadang bisa dari sebulan sampai tiga bulan bari dikasi kabar, dan ada juga lho yang tidak pernah dibalas, ya artinya tidak diterima.

6. Kalau misal cerpen kita diterima, pasti dikasi kabar oleh redaksi lewat email atau telpon bahwa cerpen kita masuk dan mereka akan memastikan terlebih dahulu apakah cerpen itu belum pernah diterbitkan di media manapun. Karena ada kasus juga dimana penulis mengirimkan satu cerpen ke dua media sekaligus, ternyata di satu media sudah diterbitkan tapi belum dikasi kabar, dan di media yang satu lagi mau diterbitkan juga, ini akan menimbulkan masalah, karena setiap media pasti inginnya naskah itu belum pernah diterbitkan sebelumnya.

7. Maka itu untuk meminimalisasi kemungkinan naskah kita jadi ‘rebutan’ , lebih baik kita mengirimkan satu naskah ke satu media saja dan menunggu selama 3 bulan sampai ada kabar jelas diterima atau tidak naskah kita. Baru setelah itu kita bisa kirim ke media yang lain.

8. Dan setelah cerpen kita diterima, biasanya akan langsung di transfer honornya ke rekening kita yang sudah kita lampirkan bersama naskah kita. Maka itu jangan lupa untuk mencantumkan keterangan/data lengkap pribadi kita, seperti nama, nmr. telpon, rekening.

9. Untuk media majalah remaja, yang menurut mayamelivyanti dan beberapa temannya yang paling sulit seleksinya adalah majalah GADIS. Karena penggunaan kalimat baku sangat diperhatikan, juga tema dari cerita.

10. Untuk majalah wanita muda, majalah CHIC adalah salah satu majalah yang bagus – bagus cerpennya, juga cukup selektif. Sedangkan untuk majalah wanita dewasa, majalah FEMINA menurut mayamelivyanti masih di ranking pertama yang menjadi acuan sebagai media yang menerbitkan cerpen – cerpen bagus dan bermutu. Maka itu persaingannya juga tinggi dan selektif.

Profesi penulis cerpen/cerpenis masih menjadi salah satu profesi yang banyak diminati sekarang ini, intinya jangan berhenti menulis dan mengirimkannya, sekalipun sering ditolak :p , suatu saat kita akan diterima dengan terus mengirimkan dan belajar dari banyak membaca cerpen-cerpen juga. Ohya jangan lupa dalam setiap email yang kita kirimkan buat surat pengantar juga ya dengan kata-kata yang bagus memperkenalkan diri kita dulu dan setidaknya sedikit cerita dari naskah cerpen yang kita ajukan.  Contoh:
Dear Redaksi Femina,
Nama saya Maya Melivyanti dari Bandung.  Saya adalah seorang ibu muda yang menantikan kehadiran bayi saya, juga pengusaha kecil-kecilan dari rumah, memang suka menulis semenjak saya muda.  Tulisan saya sudah pernah dimuat berbagai kumpulan cerita, yang paling terakhir adalah di buku The Coffeshop Chronicles, terbitan ByPass, juga sudah masuk di Femina edisi 38 tahun lalu.
Melalui surat ini saya ingin mengajukan tulisan cerpen saya yang berjudul ‘Soraya’.  Kisahnya mengenai : (ceritakan sedikit inti cerita).
Besar harapan saya agar tulisan ini bisa diterima, terima kasih atas perhatiannya, berikut saya cantumkan juga keterangan data pribadi.
Nama: Maya Melivyanti
Tmpt/tgl lahir:
Alamat:
Nmr. Hp:
Nmr. Rek:
Salam,
Maya Melivyanti
——————————————————————————————-
Dan berikut ini beberapa redaksi yang sudah pernah saya kirimkan naskah saya, memang banyak sih majalah – majalah yang lain tapi saya fokus untuk kirim ke redaksi – redaksi berikut ini.

Majalah Chic

-Format halaman A4, Times New Roman 12, spasi 1, pjg 7-8 hlmn

-e-mail : Chic@gramedia-majalah.com

Majalah Go Girl!

-Untuk kirim cerpen dengan syarat-syarat:
Font size 8, spasi single, maksimal 2 halaman Letter.
-e-mail: ika@gogirlmagazine.com

Majalah GADIS

-Syarat naskah cerpen:Cerpen remaja, 6-7 halaman folio, ketik 2 spasi. Percikan (Cerpen Mini), cerpen remaja, maks. 2 hal polio dan ketik 2 spasi.

-Info Terbaru! Kirim via e-mail dengan subjek CERPEN ke: Redaksi.GADIS@feminagroup.com

Majalah STORY

-Syarat naskah cerpen: Cerpen remaja romance/sci-fi/horor/humor, 10.000-14.000 karakter+spasi, ketik 2 spasi, kertasfolio. Lampirkan fotomu yang paling keren.

-Kirim via e-mail dengan subjek CERPEN ROMANCE/HOROR/HUMOR/SCI-FI tergantung jenis cerita ke: story_magazine@yahoo.com

Majalah Femina

-Format Letter, Times New Roman 12, spasi 2, panjang hal 7-8 hlmn

-e-mail: kontak@femina.co.id

 

Update alamat redaksi Koran, Tabloid dan majalah terbaru, mayamelivyanti ambil dari beberapa sumber ei internet:

1. Republika

sekretariat@republika.co.id, aliredov@yahoo.com

Tidak ada pemberitahuan dari redaksi terkait pemuatan cerpen. Sudah lama tidak memuat puisi. Honor cerpen Rp. 400.000,- (potong pajak), tetapi—pengalaman beberapa rekan penulis, harus sabar menagih ke redaksi beberapa kali agar segera cair.

2. Kompas

opini@kompas.co.id, opini@kompas.com

Ada konfirmasi pemuatan cerpen/puisi dari redaksi via email. Honor cerpen Rp. 1.000.000,- (tanpa potong pajak), honor puisi Rp. 500.000,- (tanpa potong pajak–referensi Esha Tegar Putra), seminggu setelah pemuatan, honor sudah ditransfer ke rekening penulis.

3. Koran Tempo

ktminggu@tempo.co.id

Biasanya Nirwan Dewanto—penjaga gawang rubrik Cerpen Koran Tempo, meng-sms penulis terkait pemuatan cepen/puisi jika penulis mencantumkan nomer hp di email pengiriman. Honor cerpen tergantung panjang pendek cerita, biasanya Rp. 700.000,- honor puisi Rp. 600.000,- (pernah Rp. 250.000,- s/d Rp. 700.000, referensi Esha Tegar Putra), ditransfer seminggu setelah pemuatan.

4. Jawa Pos

sastra@jawapos.co.id

Jawa Pos menerima karya-karya pembaca berupa cerpen dan puisi atau sajak. Cerpen bertema bebas dengan gaya penceritaan bebas pula. Panjang cerpen adalah sekitar 10 ribu karakter. Honor cerpen Rp. 1.o00.000,- (potong pajak), honor puisi Rp. 500.000,- (referensi Isbedy Stiawan Zs), ditransfer seminggu setelah cerpen/puisi dimuat.

5. Suara Merdeka

swarasastra@gmail.com

Kirimkan cerpen, puisi, esai sastra, biodata, dan foto close up Anda. Cerpen maksimal 9.000 karakter termasuk spasi. Honor cerpen Rp. 350.000,- (potong pajak), honor puisi Rp. 190.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatan cerpen. Bisa diambil langsung ke kantor redaksi atau kantor perwakilan redaksi di kota Anda—jika ada.

6. Suara Pembaruan

koransp@suarapembaruan.com

Honor cerpen Rp. 400.000,- (potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

7. Suara Karya

redaksi@suarakarya-online.com, amiherman@yahoo.com, redaksisk@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 150.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

8. Jurnal Nasional

tamba@jurnas.com, witalestari@jurnas.com

Honor cerpen Rp. 400.000,- (potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

9. Seputar Indonesia

redaksi@seputar-indonesia.com, donatus@seputar-indonesia.com

Tidak setiap hari Minggu memuat cerpen. Honor cerpen Rp. 400.000,- (potong pajak), honor puisi Rp. 190.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

10. Pikiran Rakyat

khazanah@pikiran-rakyat.com, ahda05@yahoo.com

Cerpen tayang per dua mingguan. Honor cerpen Rp. 350.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

11. Tribun Jabar

cerpen@tribunjabar.co.id, hermawan_aksan@yahoo.com

Selain ada cerpen berbahasa Indonesia setiap Minggu, juga ada cerpen bahasa Sunda setiap hari Kamis bersambung Jumat. Honor cerpen Rp. 200.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

12. Kedaulatan Rakyat

redaksi@kr.co.id, jayadikastari@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 400.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

13. Joglo Semar (Yogyakarta)

harianjoglosemar@gmail.com

Honor cerpen Rp. 150.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

14. Minggu Pagi (Yogyakarta)

we_rock_we_rock@yahoo.co.id

Terbit seminggu sekali setiap Jumat. Honor cerpen Rp. 150.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi

15. Surabaya Post

redaksi@surabayapost.info, surabaya_news@yahoo.com, zahira@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 150.000,- (potong pajak) hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

16. Radar Surabaya

radarsurabaya@yahoo.com, diptareza@yahoo.co.id

Honor cerpen Rp. 200.000,- (potong pajak) hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

17. Lampung Post

lampostminggu@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 200.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, bisa diambil langsung ke kantor redaksi atau minta tolong teman yang ada di Lampung untuk mengambilkan ke kantor redaksi.

18. Berita Pagi (Palembang)

huberitapagi@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatan cerpen, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

19. Sumatera Ekspres (Palembang)

citrabudaya_sumeks@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatan cerpen, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

20. Padang Ekspres

yusrizal_kw@yahoo.com, cerpen_puisi@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 100.000,- s/d Rp. 125.000,- honor puisi Rp. 75.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatan cerpen, bisa diambil langsung, atau minta tolong teman mengambilkan honor ke kantor redaksi.

21. Haluan (Padang)

nasrulazwar@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 150.000,- honor puisi Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatan cerpen, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

22. Singgalang (Padang)

hariansinggalang@yahoo.co.id, a2rizal@yahoo.co.id

Honor cerpen Rp. 50.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

23. Riau Pos

budaya_ripos@yahoo.com, habeka33@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 150.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

24. Sumut Pos

redaksi@hariansumutpos.com

Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

25. Jurnal Medan

nasibts@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

26. Analisa (Medan)

rajabatak@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

27. Sinar Harapan

redaksi@sinarharapan.co.id, blackpoems@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

28. Jurnal Cerpen Indonesia

jurnalcerpen@yahoo.com, jurnalcerita@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 250.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

29. Majalah Horison

horisoncerpen@gmail.com, horisonpuisi@gmail.com

Honor cerpen Rp. 350.000,- honor puisi tergantung berapa jumlah puisi yang dimuat, biasanya dikirimi majalahnya sebagai bukti terbit. Hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi, dan kadang honor dikirim via wesel jika tidak ada nomer rekening.

30. Majalah Esquire

cerpen@esquire.co.id

Honor cerpen Rp. 1.000.000,- (potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

31. Majalah Sabili

elkasabili@yahoo.co.id

Honor cerpen Rp. 200.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

32. Majalah Suara Muhammadiyah

redaksism@gmail.com

Honor cerpen Rp. 150.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

33. Majalah Ummi

kru_ummi@yahoo.com

Tema cerpen seputar keluarga dan rumah tangga. Honor cerpen Rp. 250.000,- ditransfer paling telat satu bulan setelah pemuatan.

34. Majalah Kartini

redaksi_kartini@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 400.000,- Sebulan setelah pemuatan honor ditransfer ke rekening penulis.

35. Majalah Alia

majalah_alia@yahoo.com

Honor cerpen Rp. 300.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

36. Majalah Femina

kontak@femina-online.com, kontak@femina.co.id

Honor cerpen Rp. 850.000,- dan cair seminggu setelah dimuat.

37. Majalah Sekar

sekar@gramedia-majalah.com, majalahsekar@gmail.com

Honor cerpen Rp. 400.000,- dibayar sebulan setelah majalah terbit.

38. Majalah Story

story_magazine@yahoo.com

Tema cerpen khas ala remaja/teenlit. Konfirmasi pemuatan cerpen via telepon dari redaksi Story. Antrian pemuatan panjang, bisa 6 bulan sampai setahun. Honor cerpen Rp. 250.000,- maksimal sebulan setelah pemuatan honor sudah ditransfer ke rekening penulis.

39. Majalah Gadis

redaksi.gadis@feminagroup.com

Tema cerpen khas ala remaja/teenlit. Honor untuk Percikan (cerpen mini tiga halaman) Rp. 500.000,- Honor untuk Cerpen Rp. 850.000,- ditransfer seminggu setelah majalah terbit.

40. Majalah Annida-online

majalah_annida@yahoo.com

Ada konfirmasi pemuatan cerpen via email redaksi Annida-online. Honor cerpen Rp. 50.000,- honor epik (cerita kepahlawanan) Rp. 100.00,- maksimal sebulan setelah pemuatan honor sudah ditransfer.

41. Majalah Bobo

Syarat teknis penulisan:
1.Font: Arial , ukuran 12, jarak baris spasi 1,5. 600-700 kata untuk cerita 2 halaman, 250-300 kata untuk cerita 1 halaman.

di bawah naskah cerita tersebut, cantumkan:
a. nama lengkap
B. alamat rumah
C. nomor telepon rumah/kantor/handphone
D. nomor rekening beserta nama bank, dan nama lengkap pemegang rekening bank tersebut (seperti yang tertera di buku bank) untuk pembayaran honor pemuatan.

lampirkan biodata singkat yang berisi poin nomor 5, tmpt tanggal lahir, riwayat pendidikan, dan pekerjaan.

naskah beserta biodata bisa dikirimkan via pos ke alamat:
Redaksi Majalah Bobo
Gedung Kompas Gramedia Majalah Lantai 4
Jalan Panjang No, 8A, Kebon Jeruk, Jakarta 11530

atau ke : bobonet@gramedia-majalah.com

Honor cerpen Rp. 250.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

42. Kompas khusus Cerpen Anak

opini@kompas.co.id, opini@kompas.com / Redaksi Kompas Anak, Jl. Palmerah Selatan No. 26-28, Jakarta 10270.

Pada subjek email ditulis CERPEN ANAK: JUDUL CERPEN. Panjang karangan 3-4 halaman, diketik dua spasi. Honor cerpen Rp. 300.000,- Resensi buku anak honor Rp. 250.000,- Honor cair tiga hari setelah pemuatan.

43. Tabloid Nova

nova@gramedia-majalah.com

Honor cerpen Rp. 400.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

dsc02010

“Hanya tulisan yang akan selalu hidup di hati siapapun yang pernah membacanya (Hayuno Sakura)”

Iklan

MAMA, KENAPA DIA SUDAH PUNYA PACAR??!!

ayuuuuuuu

Mama, Kenapa Dia Sudah Punya Pacar?!!

Original Created by Hayuno Sakura

Edited by Nene
(Penullis novel Newt Project, Cendawan, dmbl)

               Setiap kali akan pulang ke Jakarta, gairahku membuncah. Kuliah di Purwokerto pada fakultas kedokteran gigi dengan kegiatan super padat menjadikan aku hanya bisa pulang satu semester sekali. Enam bulan itu terasa lama, karena aku yang anak mama ini mengalami home sick setiap weekend. Aku selalu kangen mama dan berharap selalu dekat dengannya. Tak heran jika tiba waktunya liburan, aku sangat bahagia.

Malam itu aku datang ke stasiun lebih awal, duduk manis di kursi tunggu karena kereta akan datang dalam tiga puluh menit.

“Hai..” seseorang menyapaku. Aku mendongak, menyipitkan mata ketika menatap sosok cowok yang memakai jaket angkatan 2011. Aku mengenali jaket itu karena aku juga memilikinya. Itu artinya dia satu angkatan denganku di kedokteran gigi meski tidak pernah melihatnya di kampus.

“Kamu Yuki, kan?” ia kembali bertanya, kali ini sembari duduk ketika aku tak kunjung membalas sapaannya.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Merasa heran karena dia tahu namaku. Aku berpikir untuk bertanya tapi mendadak pesan Mama menggema di kepalaku.

Yuki, setiap kali bepergian, jangan bicara dengan orang asing kecuali petugas keamanan setempat. Jangan menerima makanan dan minuman apapun. Terakhir, jangan menatap matanya.

Aku segera berpaling, menatap mata orang asing adalah bahaya.

“Kamu mau pulang? Beberapa kali sebenarnya kita ketemu di kereta setiap liburan semester seperti ini. Oya, aku Kei. Kita satu angkatan tapi aku di kelas D.” lanjut cowok itu masih mempertahankan intonasi suaranya yang renyah. Tak terganggu meskipun aku tidak mengacuhkannya.

Penasaran juga, aku menatap wajahnya, dan masih tetap tidak familiar. Akhirnya kubuka mulutku, “Kamu tahu namaku? Kayaknya aku nggak populer deh di kampus kita.”

Kei tertawa. Aku tak menyangka suara tawa itu begitu enak didengar, membuat sesuatu yang aneh merambati hatiku seketika.

“Aku pernah melihat foto-foto kamu di papan pengumuman. Juara pertama lomba karya tulis ilmiah dari UKM Riset dan Penalaran. Itu keren.” ucapnya sambil tersenyum, membuat hidungku kembang kempis, tidak menyangka ada yang memperhatikan pengumuman itu.

“Makasih.” tukasku singkat, lalu kembali membuang muka. Dia tetap orang asing meskipun telah memujiku.

“Aku turun Cirebon. Kamu?” Kei kembali bertanya.

“Manggarai.” sahutku tanpa menatapnya.

“Aku di gerbong 7 kursi 13D, kamu?”

Aku menghela napas, orang ini meskipun… baiklah, ganteng, tapi bersifat kepo dan itu agak mengangguku.

“Gerbong 7 kursi 13 C.”

“Wah!, kita duduk sebelahan, dong. Ayo, sudah boleh masuk, tuh!” tunjuk Kei ke arah antrian yang mulai ramai. Aku tak punya pilihan lain, berdiri dan berjalan mengikutinya.

***

Aku tidak menghitung berapa kali naik kereta ini, tapi seingatku selalu tenang di setiap perjalanannya. Biasanya aku hanya bermain game di ponsel atau tidur. Yang kedua lebih sering kulakukan karena ini kereta malam. Aku tidak pernah ingat siapa yang duduk di sampingku, sejujurnya tak pernah peduli. Tapi malam ini lain.

“Geraham bungsu itu menentukan kedewasaan seseorang. Umur tidak bisa mutlak menjadi patokan kapan dia akan muncul. Setiap orang berbeda-beda, tergantung kondisi psikisnya, menurutku.” Kei membahas geraham bungsu ketika mendengar percakapan pasangan di seberang kami, salah satu di antara mereka mengeluh sakit gara-gara gusinya bengkak.

“Jadi, apa menurutmu dia sudah cukup dewasa untuk memiliki geraham bungsu?” tanyaku dengan suara rendah, takut pasangan itu mendengar balik percakapan kami.

Kei melirik mereka sebelum menjawab, “Sudah. Meski kelihatannya umurnya di bawah kita, dia sudah dewasa untuk menerima kehadiran geraham bungsu.”

Dengan gerakan kaku, aku ikut melirik mereka, Kei benar, mereka seperti baru saja lulus SMA. Untuk sesaat aku terdiam, merasa konyol karena sebelumnya belum pernah memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingku. Kei membuatku merasa menjadi orang lain meski baru setengah jam kami bersama.

“Geraham bungsuku tumbuh tepat ketika aku lulus SMA. Tak main-main, langsung dua-duanya. Aku sama sekali tidak bisa makan dan minum sampai harus opname di rumah sakit.” kenang Kei sambil tertawa kecil. Aku menatapnya tak percaya, bahkan di ujung terjauh gusiku belum ada tanda-tanda geraham itu akan muncul. Apa dua anak ingusan di seberang kami itu lebih dewasa dariku?

“Oh ya? Apa sangat menyakitkan?” tanyaku ngeri, tak sadar bahwa caraku duduk telah menyerong ke arah Kei.

Cowok itu mengangguk, “Banget.. karena tumbuh bersamaan. Jangan takut, kamu akan mendapatkan gerahammu satu persatu, di usia yang pas.”  Kei tersenyum misterius setelahnya, membuatku menautkan alis karena merasa dipermainkan.

“Hei… jangan nakut-nakutin, dong.” ucapanku membuatnya tertawa. Tawa yang… ah, enak sekali didengar. Aku mengamati wajahnya saat tertawa. Matanya yang bulat kekanakan menyipit, giginya yang bagus terlihat sempurna. Jantungku berlompatan di tempatnya.

“Kamu ini calon dokter gigi, masa takut sama momen tumbuhnya geraham bungsu.” ia berkomentar sambil mengeluarkan dompet lalu memanggil petugas restorasi yang lewat. Kei membeli dua kotak nasi goreng dan teh manis hangat. Tanpa persetujuanku, ia telah menyodorkan kotak itu di depanku. Aku masih ingat pesan Mama, tapi ini kasus yang berbeda. Kei membeli nasi goreng itu, jadi kupikir aman saja jika menerimanya.

Kami makan sambil ngobrol ringan. Ia bercerita tentang teman satu kosnya yang punya kebiasaan aneh yaitu ngobrol dengan laptopnya setiap malam. Pernah suatu kali laptop itu rusak dan harus menginap di tempat service komputer selama satu bulan.

“Kupikir dia akan patah hati, atau setidaknya berduka jika melihat kedekatan mereka. Tapi kamu tahu apa yang terjadi? Dia pinjam laptopku untuk mengerjakan tugas dan ternyata dia asyik ngobrol dengan laptop itu.”

“Hahahaha…” aku tertawa, nyaris tersedak ketika sebutir nasi goreng hampir menyusup ke jalan napasku. Kei menepuk-nepuk punggungku dengan cemas, “Eh, aku keterlaluan ya sampai bikin kamu tersedak.”

Aku menggeleng lalu minum untuk meredakan batukku. “Nggak, kok. Aku saja yang terlalu semangat ketawa.” tukasku tersipu malu. Sekali lagi merasa menjadi orang lain karena sebelumnya jarang sekali aku tertawa.

“Kamu lucu juga kalau lagi ketawa.” Kei memiringkan kepala untuk mencari mataku ketika mengatakannya, membuat pupil mataku membesar karena terkejut.

“Apaan, sih..” aku berusaha tenang lalu meneruskan makan, meski jantungku berguling-guling di tempatnya.

Setelah makan malam, kami kembali ngobrol seputar kegiatan di kampus, mata kuliah yang susah, dosen-dosen reseh, dan pernak pernik kampus lainnya. Kei juga bertanya tentang hobiku, apa saja yang kulakukan selain kuliah, dan sebagainya. Aku menjawab semua pertanyaan cowok itu dengan jujur, yang jika Mama mendengarnya aku pasti dibilang: bodoh. Maafin Yuki, Ma.. kali ini Yuki melanggar pesan Mama, batinku.

Tiba-tiba kereta berhenti. Aku gelagapan ketika Kei mengambil ranselnya dari bagasi di atas kami lalu mencangklongnya. Kenyataan bahwa Cirebon itu dekat membuatku kesal. Kuremas-remas ponselku dengan salah tingkah, ragu-ragu untuk meminta nomor hape Kei.

Cowok itu masih berdiri menunggu orang-orang melewatinya untuk keluar. Ia tidak  menatapku sedikit pun dan itu membuatku semakin resah. Aku ingin meminta nomor hapenya tapi benar-benar tidak punya nyali.

Kei mengambil ponsel dari saku jaketnya ketika benda itu berbunyi.

“Halo sayang? Kamu di mana? Oh, di tempat parkir. Iya kamu di situ saja nggak usah turun, biar aku saja yang ke sana. Iya, oke.. “

DHUARR!! Seolah ada petasan diledakkan di dekat telingaku. Kei baru saja menyebut kata ‘sayang’ pada orang yang meneleponnya.

“Yuki, aku duluan, ya! Sampai ketemu di kampus! Bye!” Kei melambai padaku sebelum bergegas pergi. Aku bahkan belum membalas lambaiannya. Ia pasti sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ‘sayang’nya.

Aku merosot di bangku, lemas.

Mama, seharusnya aku mengikuti nasihatmu untuk tidak bicara dengan orang asing dan menatap matanya. Lihat Ma, aku terhiptonis…

 

***

THE END