The Power of “Jomblo” Girls

Powerpuff_Girls_Z_by_Squeejthm

The Power of “Jomblo” Girls

Presented by Hayuno Sakura

Keadaan kamar kosku yang menyenangkan sore itu mendadak berubah ketika muncul wajah seseorang di beranda akun facebookku. Suasana berubah karena di sana terpampang jelas foto-foto terbaru sang mantan bersama cewek lain yang baru saja diunggah di akun facebooknya.

“Astaga, si doi udah move on aja, cepet banget” Kata Gita yang duduk di samping kananku.

Rere yang berada di sebelah kiriku segera merapat, “Wah, iya. Lihat statusnya tuh, beb.. good bye Bebi, mantan pacarku yang…gampang dibodohi.. *emot ketawa”

Aku tersenyum masam, mungkin lebih masam dari buah kesemek.

“Jangan dipikirin, Yu. Mending malam ini kita bersenang-senang. Oke?” Seru Gita penuh semagat.

“Iya, Beb. Jangan sedih” Tambah Rere.

Aku, Rere, dan Gita adalah teman satu kampus. Kami bertiga tinggal di kosan yang sama selama empat tahun, maka tidak heran jika hubungan kami lebih seperti persaudaraan daripada pertemanan biasa.

Dalam hubungan persaudaraan ini, aku dianggap sebagai kakak pertama karena seringkali dipercaya untuk mengambil keputusan dalam suatu permasalahan, selain itu aku juga pengatur strategi yang baik, tapi sedikit cengeng. Sedangkan Rere dianggap sebagai kakak kedua karena ia adalah penasehat yang baik, meskipun sifatnya sendiri kadang kekanak-kanakkan. Berbeda sekali dengan Gita, dia kuat dan tidak mudah menyerah, tapi dianggap sebagai adik karena umurnya memang paling muda diantara kami.

Rasa persaudaraan yang terbentuk selama empat tahun terakhir ini membuat kami tidak terpisahkan seperti tokoh “Hyper Blossom”, “Rolling Bubbles” dan “Powered Buttercup” di serial televisi animasi “The Powerpuff  Girls”. Aku sebagai Blossom, Rere sebagai Bubbles, dan Gita sebagai Buttercup. Kami bertiga tergabung karena nasib sial yang sama membentuk “The Power of “Jomblo” Girls” yang bertugas membela kebenaran dan keadilan di dunia yang “nano-nano” ini.

Malu karena menangisi hal yang tidak berguna, aku pun menarik bibirku untuk tersenyum dan bergembira lagi, “Oke. Ayo kita nonton film!”

Rere dan Gita ikut tersenyum, “Hore. Powerpuff Girls Z episode satu ya, versi Jepangnya” Kata Rere bersemangat. Dengan cepat, Gita mengambil laptopku, menutup akun facebookku, kemudian membuka film The Powerpuff Girls.

Ditemani sekotak besar popcorn dan sebotol kola ukuran satu setengah liter, kami siap untuk menonton film kartun favorit kami.

Episode pertama Powerpuff Girls Z berjudul “Powerpuff  Girls to the Rescue/The Secret of the Powerpuff Girls” yang menceritakan tentang awal mula terciptanya Powerpuff Girls yang bersifat baik dan monster kera yang bersifat jahat bernama Mojo Jojo.

Powerpuff Girls tercipta dari sinar terang yang jatuh menimpa peach dan tiga orang gadis bernama Momoko Akatsutsumi, Miyako Gotokuji, dan Kaoru Matsubara, sedangkan Mojo Jojo berasal dari sinar gelap yang jatuh menimpa seekor monyet.

“Hei, girls. Ayo tebak! Kenapa aku ingin sekali tertawa setiap melihat Mojo Jojo?” Tanya Rere tiba-tiba setelah film usai.

Aku dan Gita berpikir sejenak untuk menemukan jawabannya.

“Karena mukanya jelek seperti monyet!” Jawab Gita.

“Salah!” Seru Rere.

“Hmm, badannya berbulu dan mulutnya tebal!” Jawabku.

“Salah juga.. Ayo dong, masa nggak ada yang bisa jawab?” Ujar Rere semakin membuatku dan Gita penasaran.

“Kenapa, Ges? Apanya yang lucu?” Tanyaku akhirnya.

“Iya, Ges. Kasih tahu dong…” Desak Gita.

“Mojo Jojo itu kalau diperhatikan mirip mantan kita tahu… ”

Hahaha… Spontan saja aku, Rere, dan Gita tertawa terbahak-bahak. Aku tahu ini agak keterlaluan, tapi jujur aku menikmatinya.

“Eh, kayaknya mantan aku lebih ganteng dari mantan kamu deh, Ges” Gita berusaha membela diri.

“Ciee.. mantannya dibela. Ganteng tapi suka selingkuh. Hahaha…” Aku tertawa lagi.

“Mantan kamu juga, wee…” Balas Gita.

“Masih mending mantan kalian, mantan aku udah nggak ganteng, ternyata homo pula. Pfuhh…”

Aku, Rere, dan Gita sepertinya memang terlahir dari sinar terang yang telah ditakdirkan Tuhan untuk bertemu dengan Mojo Jojo (mantan-mantan kami) yang terlahir dari sinar gelap. Mantan pacarku dan Gita tukang selingkuh, sedangkan mantan pacar Rere homo. Setelah memikirkannya berulang kali, bahkan sampai otakku tumpul pun ternyata mempunyai pacar memang sangat membebani, terlebih jika pacar kita bermasalah seperti itu. Iya kan, girls?

“Oke, sekarang giliranku. Kalau ayah kita itu Professor Utonium, pasti dia bisa menciptakan banyak senjata yang menarik. Senjata apa yang paling kalian inginkan?” Tanya Gita bersemangat.

Professor Utonium adalah seorang saintis yang menciptakan Powerpuff Girls.

Aku meneguk segelas kola sampai habis sambil memikirkan keinginanku.Wah, ternyata berkhayal adalah jenis kegiatan sia-sia yang kadang sangat menyenangkan.

“Aku ingin dibuatkan magnet dengan kekuatan khusus untuk menarik lawan jenis, biar kita nggak jomblo lagi, hehe..” Ujar Rere dengan wajah tersipu malu.

“Pelet dong, Ges” Sahutku. “Kalau aku ingin Professor Utonium melakukan rekayasa genetik untuk membuat jantan-jantan dengan sifat yang unggul, kemudian dikloning. Jadi, nggak perlu ada kata-kata selingkuh di kamus besar bahasa Indonesia, karena setiap betina mendapat satu jantan yang sifatnya unggul dan berakhlak mulia, hehe…” Ujarku cengengesan.

“Rekayasa genetik, kloning gen, jantan sama betina, emangnya kita hewan percobaan apa? Kalian itu isi kepalanya cowok sama pacaran doang sih…”

“Emang kamu mau minta apa Din kalau ayah kita Professor Utonium?” Tanya Rere penasaran.

“Hmm… aku mau minta di bantuin ngerjain penelitian sama skripsi aku yang nggak selesai-selesai. Haha…”

Ya, ampun. Gita memang paling realistis, bahkan dalam kegiatan mengkhayal sekalipun.

Dibandingkan dengan memikirkan pasangan hidup, saat ini kami memang seharusnya lebih fokus mengerjakan tugas akhir yaitu penelitian dan skripsi. Karena tugas akhir adalah puncak perjuangan bagi seorang mahasiswa.

“Oke, kalian berdua sukses deh bikin aku ketawa malam ini. Makasih ya, Bubbles dan Buttercup-ku” Kataku sambil mencubit pipi Rere dan Gita.

Aku melirik ke arah jam dinding. Tak terasa jarum pendek pada jam dinding itu telah menunjuk ke angka sebelas, artinya sudah pukul sebelas malam dan harus segera tidur.

“Ups, saatnya tidur, tapi sebelum kalian kembali ke kamar masing-masing, aku juga punya sebuah pertanyaan…”

“…tolong jawab dengan jujur!”

Suasana kamarku tiba-tiba terasa mencekam karena nada bicaraku berubah menjadi serius, “Apakah ada hal menyenangkan selama kalian belum memiliki pasangan, jomblo, nggak punya pacar, nggak punya gebetan, dan nggak ada yang perhatian sama kalian untuk sekadar bertanya udah makan belum, yang?

Untuk beberapa saat semuanya terdiam, mungkin butuh waktu yang tidak sedikit ketika akan menjawab pertanyaan seperti itu dengan jujur. Atau mungkin tidak ada satu orang pun mempunyai hal yang menyenangkan ketika mereka tidak memiliki pasangan. Dalam hati aku bertanya-tanya, kepada Rere dan Gita, kepada diriku sendiri, dan bertanya pada semua yang pernah merasakan hal yang sama. Adakah jawabannya?

Rere menatapku, sepertinya dia ingin mencocokkan jawabannya karena mungkin dia kurang yakin dengan jawabannya sendiri.

Gita juga menatapku, “Kalau kamu, jawabannya apa?”

Mungkin Gita mengujiku, aku rasa dia juga memikirkan jawaban yang sama seperti yang aku dan Rere pikirkan.

“Teman” Seru kami serempak. Tiba-tiba seperti ada yang mengomando mulut kami, tapi aku rasa jawaban hati kami memang sama. Tidak ada hal yang paling menyenangkan ketika kita belum mempunyai pasangan hidup, jomblo, sendirian, dan kesepian selain teman.

Saat sendiri kita dapat lebih ditemani Tuhan, melakukan banyak hal yang menyenangkan bersama keluarga dan teman-teman. Teman adalah sesuatu yang selalu ada untuk kita tapi tidak pernah mengikat kebebasan kita. Seperti itulah arti teman bagiku.

Tiba-tiba Rere memelukku karena terharu, kemudian disusul Gita, membuatku kesulitan bernapas, “Hei, hei, kenapa jadi lebay gini sih?”

“Iya, sekarang aku tahu, banyak hal yang menyenangkan yang bisa aku lakukan saat ini bersama kalian, bersama teman-temanku yang baik. Aku percaya kok, suatu hari nanti orang baik pasti akan bertemu dengan jodoh yang baik pula. Iya, kan?” Aku menepuk-nepuk bahu kedua sahabatku, sok bijak.

Tiba-tiba Gita mencubit pipi kananku dan Rere mencubit pipi kiriku, “Iyaa, Hyper Blossom yang cerewet…”

“Arrrggghhhhh, sakit….” Teriakku sambil berusaha melepaskan diri.

Hahaha. Terima kasih teman

THE END

powerpuff-girls-Z-image-powerpuff-girls-z-36553209-1600-1200

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s