PENGAMATAN VIRUS PADA BAKTERI DENGAN METODE PLAQUE

PENGAMATAN VIRUS PADA BAKTERI DENGAN METODE PLAQUE

logo unsoed 2

 

 

Oleh:

Nama     Chayyu Latifah

NIM    :  B1J011036

Kelompok :  4

Rombongan:  II

Asisten   :  Eka Sindy Pradanti

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM VIROLOGI

 

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS BIOLOGI

PURWOKERTO

2014


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Virus adalah partikel nukleoprotein yang berukuran sub mikroskopis, memperbanyak diri dalam jaringan sel hidup, dan mempunyai kemampuan menyebabkan penyakit pada makhluk hidup (Hanadyo et al., 2013). Virus merupakan mahluk peralihan antara benda mati dan benda hidup. Disebut benda mati karena dapat dikristalkan, tidak mempunyai protoplasma atau aseluler, dan di alam bebas virus mengalami dormansi atau istirahat. Jika virus terbawa oleh angin, kemudian menemukan tempat yang cocok maka virus itu akan aktif, tetapi jika tempat itu tidak cocok maka virus akan terlempar dan terbawa oleh angin lagi. Virus juga bersifat virulen dan hanya mampu hidup pada organisme yang hidup. Virus hanya memiliki DNA atau RNA saja. Disebut benda hidup karena mempunyai DNA atau RNA dan dapat bereproduksi. Ukuran virus lebih kecil dari bakteri yakni sekitar 200-300 milimikron. Bentuk virus ada yang poligonal, bulat, T. Contoh virus berbentuk T adalah bakteriofag atu sering disebut fag saja. Virus ini menyerang bakteri epidemik misalnya Eschericia coli (Deri, 2008).
Gibbs dan Harrison (1976) mendefinisikan virus sebagai suatu parasit yang dapat menular, mempunyai genom dengan bobot molekul lebih kecil dari 3 x 108 dalton, dan membutuhkan komponen lain dari sel inang untuk memperbanyak diri. Definisi ini juga tidak memuaskan karena termasuk kedalamnya viroid yang mempunyai genom lebih kecil dari 105 dalton. Definisi virus yang lebih lengkap diajukan oleh Matthews (1992) yaitu virus adalah suatu set dari satu atau lebih molekul genom berupa protein selubung (coat protein) atau lipoprotein dan hanya dapat memperbanyak diri dalam sel inang yang sesuai dengan memanfaatkan metabolisme, materi, dan energi dari sel inang.
Virus yang menyerang bakteri diamati oleh Twort dan d’Herelle pada tahun 1915 dan 1917. Mereka mengamati bahwa bakteri usus tertentu dalam kultur cair dapat dihilangkan dengan penambahan filtrat bebas bakteri yang diperoleh dari limbah. Lisis sel-sel bakteri dikatakan dibawa oleh virus yang dikatakan sebagai  filterable poison. Bakteriofag merupakan virus kompleks yang menginfeksi bakteri, termasuk bakteri E. coli (Susanto, 2012).
Metode plaque merupakan cara untuk menghitung virus secara biologi. Metode plaque digunakan untuk menghitung jumlah unit virus. Metode ini dilakukan dengan cara sstok virus diencerkan secara serial dengan pengenceran 10 kali lipat. Sebanyak 0,1ml dari masing-massing enceran virus diinokulasikan ke dalam kultur sel satu lapis (monolayer), kemudian diinkubasi. Sel monolayer yang sudah diinfeksi virus dilapisi dengan medium nutrient agar. Sel yang terinfeksi ketika biakan diinkubasi, akan melepaskan viral progeni untuk menginfeksi sel di sekitarnya, akibatnya masing-masing partikel virus membentuk zona sel terinfeksi berupa lingkaran (plaque) (Radji, 2010).

B. Tujuan
Tujuan praktikum pengamatan Virus pada Bakteri dengan Metode Plaque adalah untuk mengetahui ada tidaknya virus pada sampel yang melisiskan sel bakteri yang terlihat dari zona jernih atau adanya plaque yang terbentuk di dalam media NA yang telah diinokulasikan sampel dan bakteri E. coli.
 

 
II. MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cawan petri, cotton bud steril, korek api, pembakar bunsen, wrapper, pipet ukur 1 ml, filler, botol steril, drugalsky, dan inkubator.

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu media Nutrient Agar, bakteri Escherechia coli cair, alkohol dan air sampel yang berasal dari 0,1 ml limbah cair kotoran sapi, kotoran kambing, kotoran ayam, kotoran kelinci, kotoran bebek, dan air kloset.

 

B. Metode

  1. Sampel air yang diduga mengandung virus dimasukan ke dalam botol sampel.
  2. Tiga media pertumbuhan bakteri (NA) disiapkan. Satu media NA mengandung isolat E. coli, satu media mengandung sampel limbah cair tanpa E. coli, dan satu media yang mengandung campuran isolate E. coli dan sampel limbah cair.
  3. Sampel air diambil sebanyak 0,1 mL dengan menggunakan piper ukur steril dan diinokulasikan secara aseptis pada kedua media NA yang telah disiapkan.
  4. Sampel air diratakan dengan menggunakan drugalsky.
  5. Diinkubasi selama 2X24 jam dengan suhu 370C
  6. Diamati pembentukan Plaque yang terjadi, apabila terbentuk Plaque pada koloni pertumbuhan bakteri, maka diduga terdapat virus yang melisiskan bakteri.

 

 III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Data Pengamatan Metode Plaque Rombongan II

Kelompok Jenis Limbah Cair Keterangan Plaque
E. coli Sampel E. coli+sampel
1 1 Kotoran sapi  
2 2 Kotoran ayam  
3 3 Kotoran kambing  
4 4 Kotoran kelinci  
5 5 Kotoran bebek  
6 6 Air kloset  

 

keterangan: (+) terdapat zona jernih ; (-) tidak terdapat zona jernih

 

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil praktikum, tidak terdapat plaque pada media NAsetelah E. coli cair dan sampel air limbah diinokulasikan dan diinkubasi selama 2X24  jam pada suhu 370C. Tidak adanya plaque yang terbentuk menunjukan hasil  yang negatif, dengan kata lain tidak terdapat sel bakteri yang lisis akibat terinfeksi virus yang terkandung dalam sampel air limbah. Reseptor pada sel E. coli  diduga tidak sesuai denganvirus yang terkandung dalam sampel air limbah pada praktikum ini. Plaque merupakan daerah kecil yang bersih disebabkan oleh adanya pelisisan dinding sel bakteri yang disebabkan oleh virus. Reseptor merupakan daerah khas tempat pelekatan virus bagi fag tertentu. Fag jenis lain tidak dapat melekat pada reseptor yang tidak sesuai (Aryulina,2007).

Metode plaque merupakan metode yang umum digunakan dalam melihat kuantitas infeksi virus dan  substansi virus. Infeksi partikel virus mengalami multiplikasi pada area yang ditumbuhi bakteri. Sel-sel yang terinfeksi menghasilkan zona jernih atau biasa disebut plaque. Plaque  merupakan daerah yang jelas pada bidang buram, mengindikasikan bakteri yang lisis oleh agen berupa  virus atau antibiotik. Plaque akan terlihat pada sel-sel yang mati atau rusak (Suryati, 2007). Metode Plaque didasarkan pada timbulnya daerah kecil yang bersih disebabkan oleh adanya pelisisan dinding sel bakteri yang disebabkan oleh virus. Metode ini dapat digunakan untuk menguji adanya bakteriofag pada hewan ataupun pada tumbuhan. Metode plaque digunakan untuk mengukur atau melihat virus secara teliti sampai ke konsentrasi yang tepat (Smith, 1980).

Kelebihan metode plaque adalah metode yang sederhana, mudah dilakukan dan biayanya terjangkau. Namun, penghitungan jumlah virus yang menginfeksi tidak spesifik dikarenakan hanya diasumsikan bahwa satu zona jernih adalah satu virus. Kekurangan metode plaque adalah tidak dapat mendeteksi jenis virus yang ada pada media NA (Suryati, 2007).

Virus menginfeksi sel bakteri, sel hewan, atau sel tumbuhan untuk bereproduksi. Ada dua macam cara virus menginfeksi sel hospes, yaitu secara litik dan secara lisogenik. Virus yang melisiskan sel bakteri adalah bakteriofage. Bakteriofage termasuk ke dalam ordo Caudovirales. Salah satu contoh bakteriofage adalah T4 virus yang menyerang bakteri Eschericia coli. Virus yang membunuh bakteri melalui lisis intraseluler telah ditemukan sejak abad ke-20 oleh Frederick Twort dan disebut sebagai bacteriophages atau phages (Anderson, 2011).

Bakteriofag (phage) merupakan virus yang menginfeksi bakteri, dapat menyebabkan bakteri lisis dan mati setelah bakteriofag berkembang biak di dalam bakteri dan keluar dari bakteri dengan jumlah yang sangat banyak. Virulent phage (bakteriofag yang eksklusif mengakibatkan lisis) memiliki banyak keuntungan sebagai biokontrol maupun agen terapi karena kemampuannya dalam menyerang bakteri dan tidak mempunyai pengaruh terhadap jenis sel lain termasuk sel manusia, hewan dan tanaman (Nindita & Wardani, 2013).Bakteriofag (faga) adalah virus yang menginfeksi  inang  selektif  bakteri dan memanfaatkan organel  seluler dari inang untuk memperbanyak dirinya. Faga cocok sebagai reagen untuk mendeteksi adanya bakteri karena dalam sampel karena mereka  memperbanyak jumlahnya secara alami, virus menginfeksi inang yang ditargetkan,  merupakan spesies atau serotipe spesifik dan ini  mengurangi spesifisitas kemungkinan hasil positif palsu,membutuhkan reagen tunggal,faga dapat  diproduksi dalam jumlah besar dengan biaya rendah, dapat disimpan untuk  waktu yang lama dalam keadaan kering, tidak menimbulkan ancaman bagi manusia dan dapat ditangani tanpa takut infeksi atau penyakit, dan dapat direkayasa untuk coexpress enzim atau peptida  urutan yang tidak native dinyatakan dalam sasaran (Derda et al., 2013).

Tiap limbah peternakan diasumsikan mengandung virus yang berbeda-beda. Peternakan ayam, misalnya, kemungkinan virus yang terdapat adalah virus penyebab penyakit tetelo, virus penyebab penyakit kanker pada ayam, dan virus penyebab penyakit flu burung. Virus penyebab penyakit tetelo disebut dengan New Castle Disease Virus (NCDV). Virus penyebab penyakit kanker pada ayam adalah Rous Sarcoma Virus (RSV) dan virus penyebab flu burung adalah H5N1. Virus yang kemungkinan terdapat pada sampel limbah peternakan sapi adalah virus jenis Cow Pea Mosaic Virus (CPMV). Virus yang kemungkinan terdapat limbah peternakan kambing adalah Caprine arthritis-encephalitis virus (CAEV) (Johnson et al., 1983).Limbah cair sapi dimungkinkan terdapat virus small pox, sapi gila atau pun lainnya. Sampel limbah cair dari ternak ayam bias terdapat Virus Avian Influenza atau Newcastle Disease Virus. Virus pada ikan misalnya Carp Interstitial Nephritis and Gill Necrosis Virus (CNGV), Cyprinid Herpesvirus (KHV) (Suwarno, 2006).

Virus akan menginfeksi suatu organisme atau sel inang, ketika organisme atau sel inang tersebut memiliki reseptor yang sesuai. Reseptor merupakan tempat pelekatan virus pada sel inang, merupakan protein khusus pada membran plasma sel inang yang mengenali virus. Virus juga dapat menyerang bakteri lain selain E. coli apabila bakteri tersebut memiliki reseptor yang sesuai. E. coli merupakan bakteri yang hidup pada saluran pencernaan yang resisten terhadap beberapa antibiotik (Krisnaningsih et al., 2012) . Bakteri E. coli digunakan sebagai isolat dalam praktikum ini, karena bakteri E.coli lebih mudah di isolasi atau dengan kata lain bakteri E.coli lebih  mudah didapatkan.  Plaque yang terbentuk karena lisisnya E. coli terlihat lebih jelas sehingga lebih mudah untuk di amati (Deri, 2008).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Metode plaque merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui adanya virus yang melisiskan sel bakteri.
  2. Plaque pada media NA akan terlihat apabila virus yang ada didalam media NA melisiskan inangnya yaitu bakteri E.coli.

                                                                                                  

B. Saran

Metode plaque merupakan metode yang sederhana dalam mendeteksi adanya virus, tetapi perlu ketelitian agar hasil yang disimpulkan akurat, karena zona yang terbentuk pada hasil praktikum tidak terlalu jelas.

 

DAFTAR REFERENSI

Bagi yang membutuhkan dafren lengkap, silahkan komen dibawah, atau silahkan tulis email temen-temen di chatbox. Terimakasih 🙂

SEMOGA BERMANFAAT

 

Iklan

2 thoughts on “PENGAMATAN VIRUS PADA BAKTERI DENGAN METODE PLAQUE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s