INOKULASI VIRUS PADA TELUR AYAM BEREMBRIO

INOKULASI VIRUS PADA TELUR AYAM BEREMBRIO

 

logo unsoed 2

 Oleh:

Nama  Chayyu Latifah

NIM    :  B1J011036

Kelompok   :  4

Rombongan  :  II

Asisten  :  Eka Sindy Pradanti

 

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM VIROLOGI

 

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS BIOLOGI

PURWOKERTO

2014


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ternak ayam merupakan komoditas peternakan yang paling banyak dipelihara oleh para peternak di pedesaan. Produk komoditas peternakan ini adalah sumber protein hewani yang dapat dijangkau oleh lapisan masyarakat secara luas. Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk, perubahan gaya hidup, kesadaran gizi, dan perbaikan tingkat pendidikan, permintaan akan produk peternakan (telur, daging, dan susu) terus meningkat. Ternak unggas terutama ayam senantiasa mendapat ancaman yang serius dari berbagai macam penyakit. Di antara penyakit-penyakit ayam, penyakit Newcastle Disease (ND) merupakan penyakit yang sangat penting di Indonesia, karena telah menyebar di seluruh Indonesia dan menimbulkan kerugian besar. Penyakit ini menimbulkan kerugian yang sangat besar karena memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi (Taufiqurahman etal., 2010).

Newcastle Disease atau disebut juga penyakit Tetelo, Pseudofowl pest, Pseudovogel pest, avian distemper, avian pneumoenchephalitis, pseudopoultry plague dan ranikhet disease. Newcastle Disease (ND) merupakan penyakit viral yang sangat menular pada unggas, bersifat sistemik yang melibatkan saluran pernafasan dan menyerang berbagai jenis unggas terutama ayam serta burung-burung liar dengan angka mortalitas yang tinggi 80-100%.Newcastle disease adalah penyakit yang tersifat kompleks sehingga isolat strain virus berbeda dapat menimbulkan variasi yang besar dalam derivat keparahan dari penyakit, termasuk pada spesies unggas yang sama. Patogenesis Ayam yang terinfeksi mempunyai peranan penting dalam penyebaran penyakit dan sebagai sumber infeksi. Mulanya virus bereplikasi pada epitel mukosa dari saluran pernafasan bagian atas dan saluran pencernaan; segera setelah infeksi virus menyebar lewat aliran darah ke ginjal dan sumsum tulang yang menyebabkan viremia skunder, ini menyebabkan infeksi pada organ seperti paru-paru, usus, dan system syaraf pusat. Kesulitan bernafas dan sesak nafas timbul akibat penyumbatan pada paru-paru dan kerusakan pada pusat pernafasan di otak (Alexander, 1991).

Sifat-sifat fisik virus ND antara lain virus ND mempunyai kemampuan untuk mengaglutinasi dan melisikan eritrosit ayam. Selain eritrosit ayam, virus ND juga mampu mengaglutinasi eritrosit mamalia dan unggas lain serta reptilia. Virus ND bila dipanaskan pada suhu 56 0C akan kehilangankemampuan untik mengaglutinasi eritrosit ayam, karena hemaglutininnya rusak.Selain itu juga akan merusak infektivitas dan imunogenesitas virus (Beard dan Hanson, 1984).

B. Tujuan

Tujuan praktikum inokulasi virus pada telur ayam berembrio adalah untuk mengetahui bagaimana cara menginokulasikan virus pada telur ayam berembrio dan mengetahui ciri-ciri embrio ayam yang terinfeksi virus Newcastle Disease (ND).

 

II. MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cawan petri, spuit injeksi 1 cc, jarum pentul, senter, alat peneropong.

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu telur ayam berembrio umur 9-12 hari, alkohol 70 %, suspensi virus Newcastle Disease 0,1 cc dan 0,3 cc, lilin, dan korek api.

 

B. Metode

  1. Disediakan telur ayam berembrio umur 9-12 hari.
  2. Dilakukan peneropongan pada telur yang akan digunakan.
  3. Ditentukan batas kantung udara dan letak dari embrio, lalu diberi tanda.
  4. Dioleskan alkohol 70% pada cangkang batas kantung telur yang ditandai.
  5. Diinokulasikan virus kedalam ruang alantois (melewati batas kantung udara) dengan cara melubangi cangkang terlebih dahulu  menggunakan jarum pentul.
  6. Dimasukkan jarum injeksi ¾ inci dengan sudut 450 dan dinjeksikan 0,1 dan 0,3 cc virus yang akan diinokulasikan.
  7. Lubang ditutup kembali dengan menggunakan lilin.
  8. Diinkubasi pada suhu 38-39 0c selama 4 hari.
  9. Pada hari keempat embrio diamati dan dibandingkan dengan telur yang tidak diinokulasikan virus.

 

 

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Hasil Pengamatan Inokulasi Virus Pada Telur Ayam BerembrioRombongan II

 

No Kelompok Titer virus 0,1/0,3 (cc) Perubahan warna hijau pada kaki Lesi pada embrio Lesi pada otot dan buku
1 1 0,3 cc + +++ +++
2 2
3 3 0,1 cc ++ _ _

 44550,3 cc___66

 

Keterangan :

(-)           : tidak ada

(+)          : ada sedikit

(++)       : sedang

(+++)     : banyak


 

B. Pembahasan

Newcastle disease virus (NDV) menyebabkan penyakit parah pada hampir semua burung dan menyebabkan kerugian secara ekonomi. Newcastle disease virus (NDV) adalah anggota dari genus Avulavirus dalam subfamili Paramyxovirinae dari famili Paramyxoviridae. NDV memiliki RNA beruntai tunggal dengan tiga ukuran 15.186, 15.192, dan 15. 198 nukleotida (nt) (Zhang et al., 2014). Klasifikasi dari Newcastle disease virus dalam Adi et al. (2008) adalah sebagai berikut:

Group   : Group V ( (-) ssRNA)

Order    : Mononegavirales

Family   : Paramyxoviridae

Genus   : Avulavirus

Species: Newcastle disease virus

Newcastledisease (ND) juga di kenal dengan sampar ayam atau tetelo.Newcastle disease (ND)biasanya berbentuk bola, meski tidak selalu (pleomorf) dengan diameter 100 -300 nm. Genome virus ND ini adalah suatu rantai tunggal RNA. Virus ini menyerang alat pernapasan, susunan jaringan syaraf, serta alat-alat reproduksi telur dan menyebar dengan cepat serta menular pada banyak spesies unggas yang bersifat akut, epidemik (mewabah) dan sangat patogen. Virus ND dibagi dua tipe yakni tipe Amerika dan tipe Asia. Pembagian ini berdasarkan keganasannya dimana tipe Asia lebih ganas dan biasanya terjadi pada musim hujan atau musin peralihan, dimana saat tersebut stamina ayam menurun sehingga penyakit mudah masuk (Adiet al., 2008).

Penyakit tetelo disebabkan oleh virus yang berukuran 100-250 nm, yang tersusun dari Ribonucleic Acid (RNA), protein dan lemak. Virus ini termasuk dalam Famili Paramyxoviridae dengan genera Genus Pneumovirus atau Genus Paramyxovirus (PMV). Genus Paramyxovirus mempunyai 9 serogroup, yaitu Paramyxovirus-1 sampai Paramyxovirus-9. Serogroup yang paling penting dan paling patogen pada ayam adalah Paramyxovirus-1 (dengan prototype Newcastle Disease Virus), Paramyxovirus-2 dan Paramyxovirus-3. Serogroup lainnya yaitu Paramyxovirus-4, Paramyxovirus-5, Paramyxovirus-5, Paramyxovirus-6, Paramyxovirus-7, Paramyxovirus-8 dan Paramyxovirus-9 pada umumnya menyerang itik, angsa, merpati, betet, dan beberapa jenis burung Iainnya (Saepulloh dan Darminto, 2005). Penyebaran penyakit penyakit tetelo melalui kontak langsung dengan ayam yang sakit, kotoran, ransum, air minum, kandang, tempat ransum atau minum, peralatan lainnya yang tercemar oleh kuman penyakit, melalui pengunjung, serangga, burung liar dan udara. Penyebaran melalui udara dapat mencapai radius 5 km. Virus penyakit tetelo dapat diisolasi dengan titer tinggi selama masa inkubasi sampai masa kesembuhan. Virus penyakit tetelo terdapat pada udara yang keluar dari pernafasan ayam, kotoran, telur-telur yang diproduksi selama gejala klinis dan dalam karkas selama infeksi akut sampai kematian (Syukron et al., 2013).

Gejala Klinis Penyakit Newcastle Disease beragam dalam hal keganasan klinis dan kemampuan menyebarnya. Sejumlah wabah khususnya pada ayam dewasa, gejala klinis mungkin ringan. Gejala ringan ini tidak diikuti gangguan syaraf. Virus yang menyebabkan bentuk penyakit ini disebut lentogenik. Wabah lain, penyakit ini dapat mempunyai angka mortalitas sampai 25%, seringkali lebih tinggi pada unggas muda; virus yang demikian ini disebut mesogenik. Tipe mesogenik menimbulkan gangguan pernapasan antara lain sesak nafas, megap-megap, batuk dan bersin serta penurunan produksi telur dan penurunan daya tetas. Wabah lainnya lagi terdapat angka kematian yang sangat tinggi kadang-kadang mencapai 100% yang disebabkan oleh virus velogenik. Infeksi velogenik menyebabkan ayam kehilangan nafsu makan, diare kehijauan, lesu, sesak nafas, megap-megap ngorok dan bersin. Ayam juga bias mengalami kelumpuhan pada sebagian atau total. Kemampuan menyibak virus F merupakanan faktor utama yang mempengaruhi virulensi.hemoragi pada Intestinum Gejala klinis ND dibedakan menjadi 5 patotipe :

  1. Bentuk Doyle merupakan bentuk per akut atau akut, menimbulkan kematian pada ayam segala umur dengan mortalitas 100%. Lesi menciri dengan adanya perdarahan pada saluran pencernaan. Bentuk ini disebabkan oleh virus strain velogenik. Penyakit ini terjadi secara tiba-tiba, ayam mati tanpa menunjukkan gejala klinis, ayam kelihatan lesu, respirasi meningkat, jaringan sekitar mata bengkak, diare dengan feses hijau atau putih dapat bercampur darah, tortikalis,  tremor otot, paralisa kaki dan sayap.
  2. Bentuk Beach atau velogenic neitropic Newcastle disease (VVND) bersifat akut, menimbulkan gejala pernafasan dan syaraf, dan menimbulkan kematian ayam segala umur dengan angka mortalitas 50 % pada ayam dewasa dan 90 % pada ayam muda.
  3. Bentuk Baudette, kurang ganas dibandingkan bentuk Beach menyebabkan kematian pada ayam muda, bentuk ini disebabkan oleh virus galur mesogenik. Pada ayam dewasa ditandai dengan penurunan produksi telur biasanya terjadi 1-3 minggu.
  4. Bentuk Hitchner disebabkan oleh virus ND galur lentogenik, gejala klinisnya bersifat ringan atau tidak tampak jelas, tidak menimbulkan kematian pada ayam dewasa dan biasanya dipakai sebagai vaksin.
  5. Bentuk enteric asimptomatic merupakan bentuk yang tidak menunjukkan gejala klinis dan gambaran patologis, tetapi ditandai dengan infeksi usus oleh virus-virus galur lentogenik yang tidak menyebabkan penyakit (Alexander, 1991).

Keberhasilan dalam mengisolasi dan mengembangkan virus tergantung pada beberapa kondisi yaitu rute inokulasi, umur embrio, temperatur inkubasi, waktu inkubasi setelah inokulasi, volume dan pengenceran dari inokulum yang digunakan, status imun dari kelompok dimana telur ayam berada. Sejalan dengan banyaknya sistem untuk isolai virus, dibutuhkan cara untuk mendeteksi infeksi virus. Bukti tidak langsung dari infeksi virus pada embrio ayam dapat diketahui dari satu atau lebih kejadian berikut yaitu kematian embrio, pembentukan lesi pada CAM seperti edema atau perkembang plak, lesi pada embrio seperti kekerdilan, hemoragi cutaneus, perkembangan otot dan buku yang abnormal, abnormalitas pada organ visceral termasuk pembesaran hepar dan lien, perubahan warna kehijauan pada kaki, nekrotik pada hepar (Purchase, 1989).

Macam-macam cara menginokulasikan virus ke embrio ayam yaitu :

  1. In Ovo

Metode ini merupakan penanaman virus pada telur ayam yang berembrio. Metode ini dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:

  1. Inokulasi pada ruang chorioalantois

Biasanya digunakan embrio ayam dengan umur 10-12 hari. Jarum dimasukkan ¾ inci dengan sudut 45º dan diinjeksikan 0,1-0,2 ml virus yang akan diinokulasikan. Setelah 40-48 jam cairan telur yang sudah diinkubasi dapat diuji untuk hemaglutinasi dengan membuat lubang kecil pada kerabang di pinggir dari rongga udara. Dengan alat semprot yang steril dan jarumnya, diambil 0,1-0,2 ml cairannya. Campur 0,5 cairan telur dengan perbandingan yang sama dari 10% suspensi dari sel darah yang di cuci bersih dalam plate. Putar plate dan lihat aglutinasi setelah 1 menit. Cairan alantois yang terinfeksi dipanen setelah 1-4 hari inokulasi. Untuk mencegah darah dalam cairan, embrio disimpan semalam dalam suhu 4ºC kemudian injeksi kerabang dekat rongga udara dan buka kerabang tersebut dengan pinset steril. Membran ditekan ke atas yolk sac dan cairan diambil dengan spuit dan dimasukkan ke dalam cawan petri. Kultur cairan tersebut untuk menghindari cairan terkontaminasi bakteri. Contoh virus yang diinokulasikan pada ruang chorioalantois ini antara lain, virus ND dan virus influenza.

  1. Inokulasi pada membran chorioalantois

Inokulasi pada embrio umur 10-11 hari adalah yang paling cocok. Telur diletakkan horizontal di atas tempat telur. Desinfektan kerabang disekitar ruang udara dan daerah lain di atas embrio telur. Buat lubang pada daerah tersebut dan diperdalam lagi hingga mencari membran kerabang. Virus diinokulasikan pada membran korioalantois dan lubang ditutup dengan lilin dan diinkubasi. Setelah 3-6 hari korioalantois membran yang terinfeksi dapat di panen dengan mengeluarkan yolk sac dan embrio secara hati-hati tanpa membuat membran lepas dari kerabang. Area inokulasi dapat di lihat dengan adanya lesi pada CAM sebelum dilepas dari kerabang.

  1. Inokulasi pada yolk sac

Inokulasi dilakukan pada embrio umur 5-7 hari. Post inokulasi diinkubasi selama 3-10 hari. Virus diinokulasikan pada bagian yolk sack dan dijaga jangan sampai terkontaminasi bakteri. Virus yang biasa diinokulasikan di bagian ini adalah virus rabies.

  1. In Vitro

Inokulasi virus dengan metode ini dilakukan dengan menanam virus pada kultur jaringan. Kultur jaringan virus dimulai dengan kultivasi embrio anak ayam cincang didalam serum atau larutan-larutan garam. Bila sel-sel hewan dikulturkan di wadah-wadah plastik atau kaca, maka sel-sel tersebut akan melekatkan dirinya pada permukan wadah itu dan terus-menerus membelah diri sampai seluruh daerah permukaan yang tertutupi medium terisi, maka terbentuklah suatu lapisan tunggal sel dan dipergunakan untuk mengembangkan virus. Sel-sel jaringan yang berbeda-beda lebih efektif untuk kultivasi beberapa virus ketimbang yang lain. Pendekatan ini telah memungkinkan kultivasi banyak virus sebagai biakan murni dalam jumlah besar untuk penelitian dan untuk produksi vaksin secara komersial. Juga luas penggunaannya untuk isolasi dan perbanyakan virus dari bahan klinis. Vaksin yang disiapkan dari kultur jaringan mempunyai keuntungan dibandingkan dengan yang disiapkan dari telur ayam berembrio dalam hal mengurangi kemungkinan seorang pasien untuk mengembangkan hipersensitivitas atau alergi terhadap albumin telur.

  1. In Vivo

Virus dapat ditanam pada hewan laboratorium yang peka. Metode ini merupakan metode yang pertama kali dalam menanam virus. Metode ini dapat digunakan untuk membedakan virus yang dapat menimbulkan lesi yang hampir mirip misalnya FMDP atau Vesikular Stomatitis pada sapi. Hewan laboratorium yang digunakan antara lain mencit, tikus putih, kelinci ataupun marmut (Merchant and Packer, 1956).

Telur ayam berembrio telah lama merupakan sistem yang telah digunakan secara luas untuk isolasi. Embrio dan membran pendukungnya menyediakan keragaman tipe sel yang dibutuhkan untuk kultur berbagai tipe virus yang berbeda. Membran kulit telur yang fibrinous terdapat di bawah kerabang. Membran membatasi seluruh permukaan dalam telur dan membentuk rongga udara pada sisi tumpul telur. Membran kulit telur bersama dengan cangkang telur membantu mempertahankan intregitas mikrobiologi dari telur, sementara terjadinya difusi gas kedalam dan keluar telur. Distribusi gas di dalam telur dibantu dengan pembentukan CAM yang sangat vaskuler yang berfungsi sebagai organ respirasi embrio (Purchase, 1989).

Berdasarkan hasil praktikum, embrio ayam kelompok 1 dan 2 yang diinjeksi dengan titer virus ND 0,3 cc mengalami sedikit perubahan warna hijau pada kaki, lesi pada embrio, dan lesi pada otot dan buku. Embrio ayam kelompok 2 da 3 yang diinjeksi dengan titer virus ND 0,1 cc mengalami perubahan warna hijau pada kaki, tapi tidak mengalami lesi pada embrio dan lesi pada otot dan bukunya. Sedangkan embrio ayam kelompok 5 dan 6 yang diinjeksi dengan titer virus ND 0,3 cc tidak terlihat adanya gejala penyakit ND pada embrio tersebut. Perbedaan gejala penyakit ND pada embrio ayam ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan titer virus yang diberikan pada embrio ayam atau disebabkan oleh beberapa faktor seperti sistem kekebalan imun, selain itu umur embrio yang digunakan juga tidak sama sehingga hasil yang didapatkan kelompok 1, 2 dan kelompok 5,6 berbeda, meskipun titer virus yang digunakan sama yaitu 0,3 cc. Hal ini sesuai dengan pernyataan Adi et al. (2008), keberhasilan dalam mengisolasi dan mengembangkan virus tergantung pada beberapa kondisi yaitu rute inokulasi, umur embrio, temperatur inkubasi, waktu inkubasi setelah inokulasi, volume dan pengenceran dari inokulum yang digunakan, status imun dari kelompok dimana telur ayam berada. Fenner (1995) menambahkan bahwa produksi antibodi berlangsung dengan cepat setelah terinfeksi NDV. Antibodi penghambat hemaglutinasi dapat diamati dalam waktu 4-6 hari setelah infeksi. Antibodi yangberasal dari induk dapat melindungi anak ayam sampai 3-4 minggu setelah menetas. Antibodi 0 IgA yang dihasilkan secara lokal berperan penting dalam melindungi saluran pernafasan dan saluran pencernaan.

 

 

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Metode Inokulasi virus dapat dilakukan secara in ovo, in vivo, dan in vitro.
  2. Inokulasi secara in ovo dapat dilakukan melalui inokulasi pada ruang chorioalantois, membran chorioalantois, dan yolk sac.
  3. Embrio yang terserang Newcastle Dissease Virus ditandai dengan pembentukan lesi pada CAM seperti timbul plak, lesi pada embrio seperti kekerdilan, perubahan warna kaki yang menjadi kehijauan, dan perkembangan otot serta buku yang abnormal.        

 

B. Saran

Sebaiknya umur pada embrio yang digunakan sama sehingga dapat mengurangi perbedaan pada embrio yang diinjeksikan dengan titer virus yang sama.


 

DAFTAR REFERENSI

Bagi temen-temen yang membutuhkan dafren lengkap, silahkan komen atau tulis email di chatbox. Terimakasih 🙂

SEMOGA BERMANFAAT

 

Iklan

2 thoughts on “INOKULASI VIRUS PADA TELUR AYAM BEREMBRIO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s