I’m OK

152563

Eka Gustiwana – I’m OK Lyric

(Feat. Nadya Rafika)

Maafkan kali ini aku harus tutupi
ku rasa kau tak perlu tahu bahwa ku sedih
ku hanya bisa tersenyum diam tanpa kata

saat ku bilang i’am ok dalam hatiku menangis
ku hanya ingin kamu yang ada di sisi
saat ku bilang i’am ok sejujurnya ku hancur
tapi maaf ku tak mampu tuk jujur padamu

biarlah sedih ini kuletakkan di benakku
pabila kau bahagia aku juga bahagia
ku hanya bisa tersenyum diam tanpa kata

saat ku bilang i’am ok dalam hatiku menangis
ku hanya ingin kamu yang ada di sisi
saat ku bilang i’am ok sejujurnya ku hancur
tapi maaf ku tak mampu tuk jujur padamu

dan bila ku harus mengakhiri semua ini
sejujurnya aku tak pernah rela

saat ku bilang i’am ok dalam hatiku menangis
ku hanya ingin kamu yang ada di sisi
saat ku bilang i’am ok sejujurnya ku hancur
tapi maaf ku tak mampu tuk jujur padamu

sejujurnya ku hancur
tetapi maaf ku tak mampu
bukannya aku tak mau
tapi maaf ku tak mampu tuk jujur padamu

Let The Sun shine In * Frente

autumn-sunshine

Let The Sun shine In * Frente

Mommy told me something
A little kid should know
It’s all about the devil
And I learned to hate him so
She said he causes trouble when you let him in your room
He’ll never ever leave you if your heart is filled with gloom

Chorus:
So let the sun shine in
Face it with a grin
Smilers never lose
And Frowners never win
So let the sun shine in
Face it with a grin
Open up your heart and let the sun shine in

When you are unhappy
The devil wears a grin
But oh he starts to run in
When the light comes prowling in
I know he’ll be unhappy
Cause I’ll never wear a frown
Maybe if we keep on smiling
He’ll get tired of hanging ’round
If I forget to say my prayers
The devil jumps with glee
But he feels so awful awful
When he sees me on my knees
So if you feel of trouble
And you never seem to move
Just open up your heart and let the sun shine in

(Chorus)

Suuuuun Shiiiiiine iiiiiin
Suuuuun Shiiiiiine iiiiiin

Mommy told me someting
A little kid should know
It’s all about the devil
And i learned to hate him so
If I forget to say my prayers
The devil jumps with glee
But he feels so awful awful
When he sees me on my knees
So if you feel of trouble
And you never seem to move
Just open up your heart and let the sun shine in

(Chorus)

Terjemahan:

Mommy bilang sesuatu
Seorang anak kecil harus tahu
Ini semua tentang iblis
Dan saya belajar untuk membencinya begitu
Dia mengatakan dia menyebabkan masalah ketika kamu  membiarkan dia di kamarmu
Dia tidak akan pernah meninggalkanmu jika hatimu penuh dengan kemuraman

Chorus:
Jadi biarkan matahari bersinar dihatimu
Hadapilah dengan senyum
Senyum yang pernah hilang
Dan cemberut yang menang
Jadi biarkan matahari bersinar dihatimu
Hadapilah dengan senyum
Bukalah hati mu dan biarkan matahari bersinar dihatimu

Bila kamu tidak puas
Iblis akan tersenyum
Tapi oh ia mulai berjalan dihatimu
Ketika cahaya datang berkeliaran dihatimu
Aku tahu dia akan bahagia
Karena aku tidak akan pernah cemberut
Mungkin jika kita tetap tersenyum
Dia akan bosan menggantung ‘bulat
Jika saya lupa untuk mengatakan doaku
Melompat iblis dengan gembira
Tapi dia terasa begitu mengerikan mengerikan
Ketika dia melihat saya di lutut saya
Jadi jika kamu merasa kesulitan
Dan kamu tidak pernah tampaknya bergerak
Hanya membuka hati kamu dan biarkan matahari bersinar dihatimu

(Chorus)

Suuuuun Shiiiiiine iiiiiin
Suuuuun Shiiiiiine iiiiiin

Mommy bilang sesuatu
Seorang anak kecil harus tahu
Ini semua tentang iblis
Dan saya belajar untuk membencinya begitu
Jika saya lupa untuk mengatakan doaku
Melompat iblis dengan gembira
Tapi dia terasa begitu mengerikan mengerikan
Ketika dia melihat saya di lutut saya
Jadi jika kamu merasa kesulitan
Dan kamu tidak pernah tampaknya bergerak
Hanya membuka hati kamu dan biarkan matahari bersinar dihatimu

(Chorus)

sunshine_radio_logo_web

SENYUM ITU INDAH

Hayuno Sakura Present

INOKULASI VIRUS TANAMAN

INOKULASI VIRUS TANAMAN

logo unsoed 2

 

 

 Oleh:

NamaChayyu Latifah

NIM:  B1J011036

Kelompok  :  4

Rombonga:  II

Asisten :  Eka Sindy Pradanti

 

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM VIROLOGI

 

 

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS BIOLOGI

PURWOKERTO

2014


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Virus tumbuhan pertama kali ditemukan pada tahun 1576, sebagai patogen yang menimbulkan gejala perubahan warna pada bunga tulip yang semula berwarna polos menjadi bergejala strip (bercak bergaris). Mekanisme penularan virus tersebut belum dapat dijelaskan secara ilmiah oleh pakar biologi hingga tahun 1886. Meyer melakukan percobaan untuk mempelajari etiologi penyakit tanaman yang disebabkan oleh virus pada tanaman tembakau bergejala mosaik (tobacco mosaic virus/TMV). Meyer belum sampai menyimpulkan bahwa penyakit itu disebabkan oleh virus. Patogen mosaik tembakau dapat melewati saringan yang tidak dapat dilalui oleh bakteri. Martinus Beijerinck pada tahun 1898 juga mengulangi percobaan Meyer dan melaporkan bahwa patogen mosaik tembakau bukanlah bakteri tetapi merupakan contagium vivum fluidum yaitu sejenis cairan hidup pembawa penyakit (Akin, 2006).

Virus tumbuhan tidak mengandung suatu enzim, toksin atau zat lain yang pada patogen lain dapat terlibat dalam patogenisitas dan menyebabkan berbagai macam gejala pada tanaman inangnya. Asam nukleat virus (RNA) merupakan satu-satunya penentu penyakit, tetapi adanya RNA atau virion di dalam tanaman meskipun dalam jumlah banyak tidaklah cukup sebagai alasan penyebab gejala penyakit.Hal ini disebabkan karena beberapa tumbuhan yang mengandung konsentrasi virus lebih tinggi menunjukkan gejala yang kurang berat dibandingkan dengan tumbuhan lainnya yang kandungan virusnya lebih sedikit, atau kadang-kadang mereka itu hanya sebagai tanaman pembawa virus yang tidak menunjukkan gejala (Suseno, 1990).

Virus tumbuhan sangat bermacam-macam, namun ada beberapa karakteristik atau sifat virus yang dapat digunakan untuk mengelompokkan virus tumbuhan. Pengelompokan virus tumbuhan didasarkan pada susunan genom virus, homologi runutan nukleotida, hubungan serologi, hubungan dengan vektor, kisaran inang, patogenisitas, gejala penyakit, serta penyebaran geografi. Berdasarkan hubungan dengan vektornya misalnya pada virus yang secara alami menyerang kedelai yaitu soybean stunt virus (SSV), Indonesian soybean swarf virus (I-SDV), soybean mosaic virus (SMV), Cowpea mild mottle virus (CPMMV) dan hanya CPMMV yang dapat ditularkan oleh Bemisia tabacci. Berdasarkan susunan genom virus, virus dengan genom DNA misalnya Cauliflower mosaic virus (Akin, 2006).

Virus tumbuhan dalam beberapa hal berbeda dengan virus yang menyerang hewan atau bakteri. Perbedaan tersebut, salah satunya adalah mekanisme penetrasi virus ke dalam sel inang. Virus tumbuhan hanya dapat masuk ke dalam sel tumbuhan melalui luka yang terjadi secara mekanis atau yang disebabkan oleh serangga vektor. Hal ini disebabkan karena virus tumbuhan tidak mempunyai alat penetrasi untuk menembus dinding sel tumbuhan. Virus yang menyerang hewan dan bakteri dapat melakukan penetrasi langsung melalui selaput sel, seperti bakteriofag (virus yang menyerang bakteri) mempunyai alat penetrasi yang dapat menembus selaput sel bakteri (Bos, 1990).

Virus tumbuhan diperlukan dalam konsentrasi tinggi (105 virion) untuk dapat menginfeksi tanaman. Virus hewan hanya memerlukan 10-100 virion dan virus bakteri memerlukan 1-10 virion saja. Hewan dapat membentuk antibodi untuk menghindari infeksi virus. Mekanisme pertahanan seperti ini tidak terjadi pada tumbuhan. Tumbuhan yang sakit akan selalu mengandung virus selama hidupnya, sehingga akan selalu terbawa pada tanaman hasil pembiakan terutama pembiakan vegetatif (Akin, 2006).

Daur infeksi virus tumbuhan dimulai dengan virus masuk ke dalam sitoplasma melalui bantuan vektor atau perlakuan secara mekanis. Virus melepaskan genom virus (asam nukleat DNA atau RNA) dari virion (uncoating) setelah berada dalam sitoplasma sel inang. Asam nukleat virus bergabung dengan perangkap metabolisme inang untuk translasi protein virus. Ekspresi gen virus diperlukan untuk replikasi genom virus dan patogenesis virus. Replikasi genom virus ditujukan untuk sintesis virus baru (DNA atau RNA) (Bos, 1990).

 

B. Tujuan

Tujuan praktikum inokulasi virus tanaman ini adalah memberikan pemahaman Postulat Koch dalam penularan penyakit tanaman yang disebabkan oleh virus tumbuhan. Khusunya mengetahui bagaimana cara penularan virus dari tanaman yang satu ke tanaman yang lain menggunakan metode sap.

 

 

II. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mortal dan pestle, kertas saring, beaker glass, botol semprotan, silet atau cutter, arang, benang, gunting, milipure, dan tabung reaksi.

Bahan-bahan yang digunakan dalampraktikum ini adalah tanaman leguminosae kacang panjang berumur dua minggu, polybag, beberapa lembar daun kacang panjang yang diduga terinfeksi virus, plastik transparan, akuades steril, kertas label dan kertas saring.

 

B. Metode

  1. Disediakan daun kacang yang terkena penyakit, diamati gejalanya dan didokumentasikan.
  2. Lima daun yang sakit dimasukkan kedalam mortal, kemudian ditambahkan 50 ml akuades lalu digerus menggunakan pestle.
  3. Daun yang digerus disaring dengan menggunakan kertas saring, kemudian disaring lagi dengan milipure sehingga diperoleh ekstrak.
  4. Satu helai daun pada tanaman kacang panjang yang berumur 2 minggu dilukai dengan menggunakan arang sebagai perlakuan, kemudian diinokulasikan cairan ekstrak menggunakan cotton bud.
  5. Daun yang telah diinokulasikan dibungkus menggunakan kantong plastik transparan.
  6. Satu helai daun yang tidak diinokulasikan ekstrak dibungkus juga dengan kantong plastik transparan sebagai kontrol.
  7. Diinkubasi selama  10 hari, kemudian diamati dan dibandingkan gejalanya dengan daun yang dibuat sap.

 

 

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Tabel 1. Data Pengamatan Postulat Koch Rombongan II

Kelompok Sampel Kontrol Perlakuan
1 Daun I (+) Gejala sistemik (bercak-bercak putih)
2 Daun II (+) Gejala sistemik (bercak kekuningan)
3 Daun I (+) Gejala sistemik (klorosis dan bercak kekuningan)
4 Daun II (+) Gejala sistemik (daun bercak kekuningan)
5 Daun I (+) Gejala sistemik (klorosis dan daun bercak putih)
6 Daun II

 

Keterangan: (+) terdapat gejala penyakit; (-) tidak terdapat gejala penyakit


B. Pembahasan

Berdasarkan hasil praktikum, inokulasi 2 jenis virus yang berbeda pada tanaman kacang panjang yang berbeda menghasilkan 2 gejala yang berbeda pula. Kelompok 1, 3, dan 5 daun pada tanaman kacang panjangnya diinokulasikan virus dengan gejala bercak putih pada daun dan menghasilkan gejala sistemik berupa klorosis dan bercak-bercak berwarna putih, kecuali pada daun kelompok 3 menghasilkan gejala sistemik klorosis dan berwarna kekuningan yang kemungkinan disebabkan oleh adanya kesalahan pada saat inokulasi. Sedangkan kelompok 2,4, dan 6 daun pada tanaman kacang panjangnya diinokulasikan virus dengan gejala bercak kekuningan pada daun menghasilkan gejala sistemik berupa klorosis dan bercak kekuningan, kecuali daun kelompok 6 yang tidak terlihat adanya gejala penyakit. Hal ini sesuai dengan pernyataan Foster et al. (2008), keberhasilan inokulasi secara mekanis tergantung pada konsentrasi virus dalam sap, sumber inokulum, metode penyiapan inokulum, ketahanan virus terhadap sap, dan tanaman inang. Kondisi lingkungan sebelum dan sesudah inokulasi, seperti cahaya dan suhu juga mempengaruhi keberhasilan inokulasi. Daun yang terinfeksi virus umumnya memiliki kenampakan daun yang permukaannya halus, berbercak dan tidak berlubang.

Postulat Koch adalah metode yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya virus yang menginfeksi suatu tumbuhan. Postulat Koch berkembang pada abad ke-19 sebagai panduan umum untuk mengidentifikasi patogen yang dapat diisolasikan dengan teknik tertentu. Walaupun dalam masa Koch, dikenal beberapa penyebab infektif yang memang bertanggung jawab pada suatu penyakit dan tidak memenuhi semua postulatnya. Usaha untuk menjalankan postulat Koch semakin kuat saat mendiagnosis penyakit yang disebabkan virus pada akhir abad ke-19. Masa itu virus belum dapat dilihat atau diisolasi dalam kultur. Hal ini merintangi perkembangan awal dari virologi (Gibbs, 1980).

Adanya kriteria postulat Koch menjadi jalan ditemukannya berbagai mikroorganisme seperti bakteri dan virus penyebab berbagai penyakit dalam waktu yang cukup singkat (kurang dari 30 tahun). Penemuan virus dan bakteri yang dapat menimbulkan berbagai penyakit serta adanya penyakit tertentu yang ditimbulkan oleh lebih dari 1 mikroorganisme memerlukan modifikasi dari postulat Koch. Tahun 1880, Koch memanfaatkan kemajuan metoda laboratorium dan menentukan kriteria yang diperlukan untuk membuktikan bahwa mikroba spesifik merupakan penyebab penyakit tertentu. Kriteria ini dikenal dengan postulat Kochyaitu:

  1. Mikroorganisme tertentu selalu ditemukan berasosiasi dengan penyakit yang ditimbulkan.
  2. Mikroorganisme dapat diisolasi dan ditumbuhkan sebagai biakan murni di laboratorium.
  3. Biakan murni tersebut bila diinjeksikan pada tanaman yang sesuai dapat menimbulkan penyakit.
  4. Mikroorganisme tersebut dapat diisolasi kembali dari tanaman yang telah terinfeksi tersebut (Rudy, 2011).

Mekanisme umum penyebaran virus tanaman ada dua yaitu transmisi horizontal dan transmisi vertikal. Transmisi horizontal yaitu virus tanaman ditularkan sebagai hasil dari sumber eksternal. Virus menembus lapisan luar pelindung tanaman. Tanaman yang telah rusak oleh cuaca, pemangkasan, atau vektor seperti bakteri, jamur dan serangga biasanya lebih rentan terhadap virus. Transmisi horizontal juga terjadi dengan metode buatan tertentu reproduksi vegetatif biasanya dipekerjakan oleh hortikulturis dan petani. Tanaman pemotongan dan penyambungan adalah mode umum yang digunakan virus tanaman dapat ditularkan. Transmisi vertikal yaitu virus ini diwariskan dari induk. Jenis penularan terjadi dalam reproduksi aseksual dan seksual. Dalam metode reproduksi aseksual seperti perbanyakan vegetatif, keturunannya berkembang dari dan secara genetik identik dengan tanaman tunggal. Ketika tanaman baru berkembang dari batang, akar, umbi, dll dari tanaman induk, virus ini diteruskan kepada tanaman berkembang. Pada reproduksi seksual, penularan virus terjadi sebagai akibat dari infeksi benih (Ajuz, 2012).

Penyakit mosaik pada kacang panjang dapat ditularkan melalui vektor yaitu Aphis craccivora, vektor ini banyak ditemukan pada tangkai bunga tanaman kacang-kacangan. A. craccivora dapat menularkan lebih dari 30 virus tanaman secara non persisten. Oleh karena itu, peranan A. craccivora dalam menularkan virus di lapang sangat penting, apalagi kutudaun (A. Craccivora) ada sepanjang tahun. Selain itu, penyakit mosaik dapat ditularkan melalui benih, dan secara mekanis. Penyakit mosaik merupakan penyakit tanaman kacang panjang yang banyak dijumpai dan merupakan salah satu penyakit penting yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas kacang panjang. Beberapa penyakit mosaik diantaranya Bean Common Mosaic Virus (BCMV), Bean Yellow Mosaic Virus (BYMV), Cowpea Aphid Borne Mosaic Virus (CABMV), ketiga virus ini termasuk ke dalam genus potyvirus (Suryadi, 2007).

Tanaman kacang-kacangan (leguminosae) merupakan tanaman yang sering digunakan untuk uji Postulat Koch. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan tanaman yang relatif cepat sehingga mudah diamati gejala yang ditimbulkan apabila terdapat penyakit yang disebabkan oleh berbagai macam agen penginfeksi. Penyakit yang menyerang pertanaman kacang tanah di Indonesia, pada umumnya adalah penyakit layu bakteri, bercak daun awal, bercak daun lambat, dan karat yang masing-masing disebabkan oleh Ralstonia solanacearum, Cercospora arachidicola, Cercosporidium personatum, dan Puccinia arachidis. Penyakit karat daun Puccinia arachidis merupakan penyakit yang cukup berbahaya pada pertanaman kacang tanah. Puccinia arachidis sendiri merupakan cendawan parasit obligat yang tidak dapat hidup sebagai secara saprofit. Virus yang menyerang kacang-kacangan misalnya PStv dan PmoV yang dapat menimbulkan gejala bilur (blotch) pada kacang tanah (Semangun, 1991).

Kacang panjang merupakan tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia, namun produktivitas kacang panjang sangat rendah, yaitu 2-3 ton/ha. Salah satu gangguan penyakit yang penting pada kacang panjang disebabkan oleh infeksi Bean common mosaic virus (BCMV). Penyakit mosaik kacang panjang menyebabkan kerugian sebesar 65.87% dan BCMV dilaporkan sebagai salah satu penyebab mosaik kuning kacang panjang yang menginfeksi secara tunggal ataupun bersama Cucumber mosaic virus (CMV) di Jawa Barat (Kurnianingsih dan Damayanti, 2013). Mosaik menunjukkan adanya warna yang berbeda secara tidak teratur, seperti warna hijau tua yang diselingi dengan hijau muda. Gejala mosaik biasanya didahului oleh pemucatan sepanjang tulang daun (vein clearing) atau akumulasi warna hijau sepanjang tulang daun (vein banding). Contoh pada tanaman tembakau yang terkena TMV. Bercak cincin pada bagian tanaman yang terinfeksi dilingkari garis berbentuk cincin. Selain berupa klorosis atau nekrosis, kadang-kadang gejala tersebut dapat berupa lingkaran terpusat. Contoh pada tanaman paprika yang terkena CMV. Layu (Wilting) akibat nekrosis pada pembuluh tanaman. Contoh tomat yang terinfeksi TSWV. (Akin, 1998). Gejala mosaik lainnya yaitu Mungbean yellow mosaic virus (MYMV) yang khas menghasilkan gejala mosaik kuning. Gejala-gejala muncul dalam bentuk bercak-bercak kecil berwarna kuning, tidak teratur pada sepanjang urat daun, yang membesar sampai daun benar-benar menguning. Tanaman yang sakit terhambat pertumbuhannya, bunga yang lebih sedikit, polong kecil, kadang-kadang layu benih dalam kasus yang parah, dan bagian tanaman lainnya juga menjadi kuning (Sudha et al., 2013).

Gejala secara umum yang ditimbulkan virus tanaman adalah gejala eksternal dan gejala internal. Gejala eksternal merupakan gejala penyakit yang kasatmata, dapat dilihat langsung tanpa bantuan mikroskop. Gejala eksternal diakibatkan oleh infeksi primer pada sel yang diinokulasikan oleh infeksi sekunder akibat penyebaran virus dari situs infeksi primer ke bagian lain dari tanaman inang. Gejala infeksi primer pada daun yang diinokulasi disebut gejala local. Gejala tersebut dapat dibedakan dengan jaringan di sekitarnya yang berbentuk bercak. Gejala internal yaitu perubahan histologi pada bagian tanaman yang terinfeksi virus khususnya daun, daun lembaga, dan cabang tanaman, dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu neksrosis atau kematian sel, hiperplasia atau pertumbuhan sel yang berlebihan, serta hipoplasia atau penurunan pertumbuhan sel (Akin, 2006).

 

 

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Postulat koch adalah salah satu metode yang digunakan untuk mendeteksi penyakit pada tanaman yang disebabkan oleh virus.
  2. Virus pada tumbuhan disebarkan oleh vektor serangga, tungau, pelukaan mekanis pada daun, biji, dan benang sari.
  3. Tanaman yang terserang virus dapat dikenali dengan adanya bercak berwarna putih atau kekuningan pada daun, serta daun dapat menjadi layu dan mengkerut.

                                                                                                  

B. Saran

Sebaiknya inokulasi virus pada tanaman dilakukan dengan lebih hati-hati agar hasil yang didapat sesuai dengan inokulum yang diinokulasikan.

 

 

DAFTAR REFERENSI

Bagi yang membutuhkan dafren lengkap, silahkan komen dibawah tulisan ini atau tulis alamat email di chatbox. Terimakasih 🙂

SEMOGA BERMANFAAT

 

INOKULASI VIRUS PADA TELUR AYAM BEREMBRIO

INOKULASI VIRUS PADA TELUR AYAM BEREMBRIO

 

logo unsoed 2

 Oleh:

Nama  Chayyu Latifah

NIM    :  B1J011036

Kelompok   :  4

Rombongan  :  II

Asisten  :  Eka Sindy Pradanti

 

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM VIROLOGI

 

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS BIOLOGI

PURWOKERTO

2014


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ternak ayam merupakan komoditas peternakan yang paling banyak dipelihara oleh para peternak di pedesaan. Produk komoditas peternakan ini adalah sumber protein hewani yang dapat dijangkau oleh lapisan masyarakat secara luas. Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk, perubahan gaya hidup, kesadaran gizi, dan perbaikan tingkat pendidikan, permintaan akan produk peternakan (telur, daging, dan susu) terus meningkat. Ternak unggas terutama ayam senantiasa mendapat ancaman yang serius dari berbagai macam penyakit. Di antara penyakit-penyakit ayam, penyakit Newcastle Disease (ND) merupakan penyakit yang sangat penting di Indonesia, karena telah menyebar di seluruh Indonesia dan menimbulkan kerugian besar. Penyakit ini menimbulkan kerugian yang sangat besar karena memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi (Taufiqurahman etal., 2010).

Newcastle Disease atau disebut juga penyakit Tetelo, Pseudofowl pest, Pseudovogel pest, avian distemper, avian pneumoenchephalitis, pseudopoultry plague dan ranikhet disease. Newcastle Disease (ND) merupakan penyakit viral yang sangat menular pada unggas, bersifat sistemik yang melibatkan saluran pernafasan dan menyerang berbagai jenis unggas terutama ayam serta burung-burung liar dengan angka mortalitas yang tinggi 80-100%.Newcastle disease adalah penyakit yang tersifat kompleks sehingga isolat strain virus berbeda dapat menimbulkan variasi yang besar dalam derivat keparahan dari penyakit, termasuk pada spesies unggas yang sama. Patogenesis Ayam yang terinfeksi mempunyai peranan penting dalam penyebaran penyakit dan sebagai sumber infeksi. Mulanya virus bereplikasi pada epitel mukosa dari saluran pernafasan bagian atas dan saluran pencernaan; segera setelah infeksi virus menyebar lewat aliran darah ke ginjal dan sumsum tulang yang menyebabkan viremia skunder, ini menyebabkan infeksi pada organ seperti paru-paru, usus, dan system syaraf pusat. Kesulitan bernafas dan sesak nafas timbul akibat penyumbatan pada paru-paru dan kerusakan pada pusat pernafasan di otak (Alexander, 1991).

Sifat-sifat fisik virus ND antara lain virus ND mempunyai kemampuan untuk mengaglutinasi dan melisikan eritrosit ayam. Selain eritrosit ayam, virus ND juga mampu mengaglutinasi eritrosit mamalia dan unggas lain serta reptilia. Virus ND bila dipanaskan pada suhu 56 0C akan kehilangankemampuan untik mengaglutinasi eritrosit ayam, karena hemaglutininnya rusak.Selain itu juga akan merusak infektivitas dan imunogenesitas virus (Beard dan Hanson, 1984).

B. Tujuan

Tujuan praktikum inokulasi virus pada telur ayam berembrio adalah untuk mengetahui bagaimana cara menginokulasikan virus pada telur ayam berembrio dan mengetahui ciri-ciri embrio ayam yang terinfeksi virus Newcastle Disease (ND).

 

II. MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cawan petri, spuit injeksi 1 cc, jarum pentul, senter, alat peneropong.

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu telur ayam berembrio umur 9-12 hari, alkohol 70 %, suspensi virus Newcastle Disease 0,1 cc dan 0,3 cc, lilin, dan korek api.

 

B. Metode

  1. Disediakan telur ayam berembrio umur 9-12 hari.
  2. Dilakukan peneropongan pada telur yang akan digunakan.
  3. Ditentukan batas kantung udara dan letak dari embrio, lalu diberi tanda.
  4. Dioleskan alkohol 70% pada cangkang batas kantung telur yang ditandai.
  5. Diinokulasikan virus kedalam ruang alantois (melewati batas kantung udara) dengan cara melubangi cangkang terlebih dahulu  menggunakan jarum pentul.
  6. Dimasukkan jarum injeksi ¾ inci dengan sudut 450 dan dinjeksikan 0,1 dan 0,3 cc virus yang akan diinokulasikan.
  7. Lubang ditutup kembali dengan menggunakan lilin.
  8. Diinkubasi pada suhu 38-39 0c selama 4 hari.
  9. Pada hari keempat embrio diamati dan dibandingkan dengan telur yang tidak diinokulasikan virus.

 

 

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Hasil Pengamatan Inokulasi Virus Pada Telur Ayam BerembrioRombongan II

 

No Kelompok Titer virus 0,1/0,3 (cc) Perubahan warna hijau pada kaki Lesi pada embrio Lesi pada otot dan buku
1 1 0,3 cc + +++ +++
2 2
3 3 0,1 cc ++ _ _

 44550,3 cc___66

 

Keterangan :

(-)           : tidak ada

(+)          : ada sedikit

(++)       : sedang

(+++)     : banyak


 

B. Pembahasan

Newcastle disease virus (NDV) menyebabkan penyakit parah pada hampir semua burung dan menyebabkan kerugian secara ekonomi. Newcastle disease virus (NDV) adalah anggota dari genus Avulavirus dalam subfamili Paramyxovirinae dari famili Paramyxoviridae. NDV memiliki RNA beruntai tunggal dengan tiga ukuran 15.186, 15.192, dan 15. 198 nukleotida (nt) (Zhang et al., 2014). Klasifikasi dari Newcastle disease virus dalam Adi et al. (2008) adalah sebagai berikut:

Group   : Group V ( (-) ssRNA)

Order    : Mononegavirales

Family   : Paramyxoviridae

Genus   : Avulavirus

Species: Newcastle disease virus

Newcastledisease (ND) juga di kenal dengan sampar ayam atau tetelo.Newcastle disease (ND)biasanya berbentuk bola, meski tidak selalu (pleomorf) dengan diameter 100 -300 nm. Genome virus ND ini adalah suatu rantai tunggal RNA. Virus ini menyerang alat pernapasan, susunan jaringan syaraf, serta alat-alat reproduksi telur dan menyebar dengan cepat serta menular pada banyak spesies unggas yang bersifat akut, epidemik (mewabah) dan sangat patogen. Virus ND dibagi dua tipe yakni tipe Amerika dan tipe Asia. Pembagian ini berdasarkan keganasannya dimana tipe Asia lebih ganas dan biasanya terjadi pada musim hujan atau musin peralihan, dimana saat tersebut stamina ayam menurun sehingga penyakit mudah masuk (Adiet al., 2008).

Penyakit tetelo disebabkan oleh virus yang berukuran 100-250 nm, yang tersusun dari Ribonucleic Acid (RNA), protein dan lemak. Virus ini termasuk dalam Famili Paramyxoviridae dengan genera Genus Pneumovirus atau Genus Paramyxovirus (PMV). Genus Paramyxovirus mempunyai 9 serogroup, yaitu Paramyxovirus-1 sampai Paramyxovirus-9. Serogroup yang paling penting dan paling patogen pada ayam adalah Paramyxovirus-1 (dengan prototype Newcastle Disease Virus), Paramyxovirus-2 dan Paramyxovirus-3. Serogroup lainnya yaitu Paramyxovirus-4, Paramyxovirus-5, Paramyxovirus-5, Paramyxovirus-6, Paramyxovirus-7, Paramyxovirus-8 dan Paramyxovirus-9 pada umumnya menyerang itik, angsa, merpati, betet, dan beberapa jenis burung Iainnya (Saepulloh dan Darminto, 2005). Penyebaran penyakit penyakit tetelo melalui kontak langsung dengan ayam yang sakit, kotoran, ransum, air minum, kandang, tempat ransum atau minum, peralatan lainnya yang tercemar oleh kuman penyakit, melalui pengunjung, serangga, burung liar dan udara. Penyebaran melalui udara dapat mencapai radius 5 km. Virus penyakit tetelo dapat diisolasi dengan titer tinggi selama masa inkubasi sampai masa kesembuhan. Virus penyakit tetelo terdapat pada udara yang keluar dari pernafasan ayam, kotoran, telur-telur yang diproduksi selama gejala klinis dan dalam karkas selama infeksi akut sampai kematian (Syukron et al., 2013).

Gejala Klinis Penyakit Newcastle Disease beragam dalam hal keganasan klinis dan kemampuan menyebarnya. Sejumlah wabah khususnya pada ayam dewasa, gejala klinis mungkin ringan. Gejala ringan ini tidak diikuti gangguan syaraf. Virus yang menyebabkan bentuk penyakit ini disebut lentogenik. Wabah lain, penyakit ini dapat mempunyai angka mortalitas sampai 25%, seringkali lebih tinggi pada unggas muda; virus yang demikian ini disebut mesogenik. Tipe mesogenik menimbulkan gangguan pernapasan antara lain sesak nafas, megap-megap, batuk dan bersin serta penurunan produksi telur dan penurunan daya tetas. Wabah lainnya lagi terdapat angka kematian yang sangat tinggi kadang-kadang mencapai 100% yang disebabkan oleh virus velogenik. Infeksi velogenik menyebabkan ayam kehilangan nafsu makan, diare kehijauan, lesu, sesak nafas, megap-megap ngorok dan bersin. Ayam juga bias mengalami kelumpuhan pada sebagian atau total. Kemampuan menyibak virus F merupakanan faktor utama yang mempengaruhi virulensi.hemoragi pada Intestinum Gejala klinis ND dibedakan menjadi 5 patotipe :

  1. Bentuk Doyle merupakan bentuk per akut atau akut, menimbulkan kematian pada ayam segala umur dengan mortalitas 100%. Lesi menciri dengan adanya perdarahan pada saluran pencernaan. Bentuk ini disebabkan oleh virus strain velogenik. Penyakit ini terjadi secara tiba-tiba, ayam mati tanpa menunjukkan gejala klinis, ayam kelihatan lesu, respirasi meningkat, jaringan sekitar mata bengkak, diare dengan feses hijau atau putih dapat bercampur darah, tortikalis,  tremor otot, paralisa kaki dan sayap.
  2. Bentuk Beach atau velogenic neitropic Newcastle disease (VVND) bersifat akut, menimbulkan gejala pernafasan dan syaraf, dan menimbulkan kematian ayam segala umur dengan angka mortalitas 50 % pada ayam dewasa dan 90 % pada ayam muda.
  3. Bentuk Baudette, kurang ganas dibandingkan bentuk Beach menyebabkan kematian pada ayam muda, bentuk ini disebabkan oleh virus galur mesogenik. Pada ayam dewasa ditandai dengan penurunan produksi telur biasanya terjadi 1-3 minggu.
  4. Bentuk Hitchner disebabkan oleh virus ND galur lentogenik, gejala klinisnya bersifat ringan atau tidak tampak jelas, tidak menimbulkan kematian pada ayam dewasa dan biasanya dipakai sebagai vaksin.
  5. Bentuk enteric asimptomatic merupakan bentuk yang tidak menunjukkan gejala klinis dan gambaran patologis, tetapi ditandai dengan infeksi usus oleh virus-virus galur lentogenik yang tidak menyebabkan penyakit (Alexander, 1991).

Keberhasilan dalam mengisolasi dan mengembangkan virus tergantung pada beberapa kondisi yaitu rute inokulasi, umur embrio, temperatur inkubasi, waktu inkubasi setelah inokulasi, volume dan pengenceran dari inokulum yang digunakan, status imun dari kelompok dimana telur ayam berada. Sejalan dengan banyaknya sistem untuk isolai virus, dibutuhkan cara untuk mendeteksi infeksi virus. Bukti tidak langsung dari infeksi virus pada embrio ayam dapat diketahui dari satu atau lebih kejadian berikut yaitu kematian embrio, pembentukan lesi pada CAM seperti edema atau perkembang plak, lesi pada embrio seperti kekerdilan, hemoragi cutaneus, perkembangan otot dan buku yang abnormal, abnormalitas pada organ visceral termasuk pembesaran hepar dan lien, perubahan warna kehijauan pada kaki, nekrotik pada hepar (Purchase, 1989).

Macam-macam cara menginokulasikan virus ke embrio ayam yaitu :

  1. In Ovo

Metode ini merupakan penanaman virus pada telur ayam yang berembrio. Metode ini dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:

  1. Inokulasi pada ruang chorioalantois

Biasanya digunakan embrio ayam dengan umur 10-12 hari. Jarum dimasukkan ¾ inci dengan sudut 45º dan diinjeksikan 0,1-0,2 ml virus yang akan diinokulasikan. Setelah 40-48 jam cairan telur yang sudah diinkubasi dapat diuji untuk hemaglutinasi dengan membuat lubang kecil pada kerabang di pinggir dari rongga udara. Dengan alat semprot yang steril dan jarumnya, diambil 0,1-0,2 ml cairannya. Campur 0,5 cairan telur dengan perbandingan yang sama dari 10% suspensi dari sel darah yang di cuci bersih dalam plate. Putar plate dan lihat aglutinasi setelah 1 menit. Cairan alantois yang terinfeksi dipanen setelah 1-4 hari inokulasi. Untuk mencegah darah dalam cairan, embrio disimpan semalam dalam suhu 4ºC kemudian injeksi kerabang dekat rongga udara dan buka kerabang tersebut dengan pinset steril. Membran ditekan ke atas yolk sac dan cairan diambil dengan spuit dan dimasukkan ke dalam cawan petri. Kultur cairan tersebut untuk menghindari cairan terkontaminasi bakteri. Contoh virus yang diinokulasikan pada ruang chorioalantois ini antara lain, virus ND dan virus influenza.

  1. Inokulasi pada membran chorioalantois

Inokulasi pada embrio umur 10-11 hari adalah yang paling cocok. Telur diletakkan horizontal di atas tempat telur. Desinfektan kerabang disekitar ruang udara dan daerah lain di atas embrio telur. Buat lubang pada daerah tersebut dan diperdalam lagi hingga mencari membran kerabang. Virus diinokulasikan pada membran korioalantois dan lubang ditutup dengan lilin dan diinkubasi. Setelah 3-6 hari korioalantois membran yang terinfeksi dapat di panen dengan mengeluarkan yolk sac dan embrio secara hati-hati tanpa membuat membran lepas dari kerabang. Area inokulasi dapat di lihat dengan adanya lesi pada CAM sebelum dilepas dari kerabang.

  1. Inokulasi pada yolk sac

Inokulasi dilakukan pada embrio umur 5-7 hari. Post inokulasi diinkubasi selama 3-10 hari. Virus diinokulasikan pada bagian yolk sack dan dijaga jangan sampai terkontaminasi bakteri. Virus yang biasa diinokulasikan di bagian ini adalah virus rabies.

  1. In Vitro

Inokulasi virus dengan metode ini dilakukan dengan menanam virus pada kultur jaringan. Kultur jaringan virus dimulai dengan kultivasi embrio anak ayam cincang didalam serum atau larutan-larutan garam. Bila sel-sel hewan dikulturkan di wadah-wadah plastik atau kaca, maka sel-sel tersebut akan melekatkan dirinya pada permukan wadah itu dan terus-menerus membelah diri sampai seluruh daerah permukaan yang tertutupi medium terisi, maka terbentuklah suatu lapisan tunggal sel dan dipergunakan untuk mengembangkan virus. Sel-sel jaringan yang berbeda-beda lebih efektif untuk kultivasi beberapa virus ketimbang yang lain. Pendekatan ini telah memungkinkan kultivasi banyak virus sebagai biakan murni dalam jumlah besar untuk penelitian dan untuk produksi vaksin secara komersial. Juga luas penggunaannya untuk isolasi dan perbanyakan virus dari bahan klinis. Vaksin yang disiapkan dari kultur jaringan mempunyai keuntungan dibandingkan dengan yang disiapkan dari telur ayam berembrio dalam hal mengurangi kemungkinan seorang pasien untuk mengembangkan hipersensitivitas atau alergi terhadap albumin telur.

  1. In Vivo

Virus dapat ditanam pada hewan laboratorium yang peka. Metode ini merupakan metode yang pertama kali dalam menanam virus. Metode ini dapat digunakan untuk membedakan virus yang dapat menimbulkan lesi yang hampir mirip misalnya FMDP atau Vesikular Stomatitis pada sapi. Hewan laboratorium yang digunakan antara lain mencit, tikus putih, kelinci ataupun marmut (Merchant and Packer, 1956).

Telur ayam berembrio telah lama merupakan sistem yang telah digunakan secara luas untuk isolasi. Embrio dan membran pendukungnya menyediakan keragaman tipe sel yang dibutuhkan untuk kultur berbagai tipe virus yang berbeda. Membran kulit telur yang fibrinous terdapat di bawah kerabang. Membran membatasi seluruh permukaan dalam telur dan membentuk rongga udara pada sisi tumpul telur. Membran kulit telur bersama dengan cangkang telur membantu mempertahankan intregitas mikrobiologi dari telur, sementara terjadinya difusi gas kedalam dan keluar telur. Distribusi gas di dalam telur dibantu dengan pembentukan CAM yang sangat vaskuler yang berfungsi sebagai organ respirasi embrio (Purchase, 1989).

Berdasarkan hasil praktikum, embrio ayam kelompok 1 dan 2 yang diinjeksi dengan titer virus ND 0,3 cc mengalami sedikit perubahan warna hijau pada kaki, lesi pada embrio, dan lesi pada otot dan buku. Embrio ayam kelompok 2 da 3 yang diinjeksi dengan titer virus ND 0,1 cc mengalami perubahan warna hijau pada kaki, tapi tidak mengalami lesi pada embrio dan lesi pada otot dan bukunya. Sedangkan embrio ayam kelompok 5 dan 6 yang diinjeksi dengan titer virus ND 0,3 cc tidak terlihat adanya gejala penyakit ND pada embrio tersebut. Perbedaan gejala penyakit ND pada embrio ayam ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan titer virus yang diberikan pada embrio ayam atau disebabkan oleh beberapa faktor seperti sistem kekebalan imun, selain itu umur embrio yang digunakan juga tidak sama sehingga hasil yang didapatkan kelompok 1, 2 dan kelompok 5,6 berbeda, meskipun titer virus yang digunakan sama yaitu 0,3 cc. Hal ini sesuai dengan pernyataan Adi et al. (2008), keberhasilan dalam mengisolasi dan mengembangkan virus tergantung pada beberapa kondisi yaitu rute inokulasi, umur embrio, temperatur inkubasi, waktu inkubasi setelah inokulasi, volume dan pengenceran dari inokulum yang digunakan, status imun dari kelompok dimana telur ayam berada. Fenner (1995) menambahkan bahwa produksi antibodi berlangsung dengan cepat setelah terinfeksi NDV. Antibodi penghambat hemaglutinasi dapat diamati dalam waktu 4-6 hari setelah infeksi. Antibodi yangberasal dari induk dapat melindungi anak ayam sampai 3-4 minggu setelah menetas. Antibodi 0 IgA yang dihasilkan secara lokal berperan penting dalam melindungi saluran pernafasan dan saluran pencernaan.

 

 

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Metode Inokulasi virus dapat dilakukan secara in ovo, in vivo, dan in vitro.
  2. Inokulasi secara in ovo dapat dilakukan melalui inokulasi pada ruang chorioalantois, membran chorioalantois, dan yolk sac.
  3. Embrio yang terserang Newcastle Dissease Virus ditandai dengan pembentukan lesi pada CAM seperti timbul plak, lesi pada embrio seperti kekerdilan, perubahan warna kaki yang menjadi kehijauan, dan perkembangan otot serta buku yang abnormal.        

 

B. Saran

Sebaiknya umur pada embrio yang digunakan sama sehingga dapat mengurangi perbedaan pada embrio yang diinjeksikan dengan titer virus yang sama.


 

DAFTAR REFERENSI

Bagi temen-temen yang membutuhkan dafren lengkap, silahkan komen atau tulis email di chatbox. Terimakasih 🙂

SEMOGA BERMANFAAT

 

PENGAMATAN VIRUS PADA BAKTERI DENGAN METODE PLAQUE

PENGAMATAN VIRUS PADA BAKTERI DENGAN METODE PLAQUE

logo unsoed 2

 

 

Oleh:

Nama     Chayyu Latifah

NIM    :  B1J011036

Kelompok :  4

Rombongan:  II

Asisten   :  Eka Sindy Pradanti

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM VIROLOGI

 

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS BIOLOGI

PURWOKERTO

2014


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Virus adalah partikel nukleoprotein yang berukuran sub mikroskopis, memperbanyak diri dalam jaringan sel hidup, dan mempunyai kemampuan menyebabkan penyakit pada makhluk hidup (Hanadyo et al., 2013). Virus merupakan mahluk peralihan antara benda mati dan benda hidup. Disebut benda mati karena dapat dikristalkan, tidak mempunyai protoplasma atau aseluler, dan di alam bebas virus mengalami dormansi atau istirahat. Jika virus terbawa oleh angin, kemudian menemukan tempat yang cocok maka virus itu akan aktif, tetapi jika tempat itu tidak cocok maka virus akan terlempar dan terbawa oleh angin lagi. Virus juga bersifat virulen dan hanya mampu hidup pada organisme yang hidup. Virus hanya memiliki DNA atau RNA saja. Disebut benda hidup karena mempunyai DNA atau RNA dan dapat bereproduksi. Ukuran virus lebih kecil dari bakteri yakni sekitar 200-300 milimikron. Bentuk virus ada yang poligonal, bulat, T. Contoh virus berbentuk T adalah bakteriofag atu sering disebut fag saja. Virus ini menyerang bakteri epidemik misalnya Eschericia coli (Deri, 2008).
Gibbs dan Harrison (1976) mendefinisikan virus sebagai suatu parasit yang dapat menular, mempunyai genom dengan bobot molekul lebih kecil dari 3 x 108 dalton, dan membutuhkan komponen lain dari sel inang untuk memperbanyak diri. Definisi ini juga tidak memuaskan karena termasuk kedalamnya viroid yang mempunyai genom lebih kecil dari 105 dalton. Definisi virus yang lebih lengkap diajukan oleh Matthews (1992) yaitu virus adalah suatu set dari satu atau lebih molekul genom berupa protein selubung (coat protein) atau lipoprotein dan hanya dapat memperbanyak diri dalam sel inang yang sesuai dengan memanfaatkan metabolisme, materi, dan energi dari sel inang.
Virus yang menyerang bakteri diamati oleh Twort dan d’Herelle pada tahun 1915 dan 1917. Mereka mengamati bahwa bakteri usus tertentu dalam kultur cair dapat dihilangkan dengan penambahan filtrat bebas bakteri yang diperoleh dari limbah. Lisis sel-sel bakteri dikatakan dibawa oleh virus yang dikatakan sebagai  filterable poison. Bakteriofag merupakan virus kompleks yang menginfeksi bakteri, termasuk bakteri E. coli (Susanto, 2012).
Metode plaque merupakan cara untuk menghitung virus secara biologi. Metode plaque digunakan untuk menghitung jumlah unit virus. Metode ini dilakukan dengan cara sstok virus diencerkan secara serial dengan pengenceran 10 kali lipat. Sebanyak 0,1ml dari masing-massing enceran virus diinokulasikan ke dalam kultur sel satu lapis (monolayer), kemudian diinkubasi. Sel monolayer yang sudah diinfeksi virus dilapisi dengan medium nutrient agar. Sel yang terinfeksi ketika biakan diinkubasi, akan melepaskan viral progeni untuk menginfeksi sel di sekitarnya, akibatnya masing-masing partikel virus membentuk zona sel terinfeksi berupa lingkaran (plaque) (Radji, 2010).

B. Tujuan
Tujuan praktikum pengamatan Virus pada Bakteri dengan Metode Plaque adalah untuk mengetahui ada tidaknya virus pada sampel yang melisiskan sel bakteri yang terlihat dari zona jernih atau adanya plaque yang terbentuk di dalam media NA yang telah diinokulasikan sampel dan bakteri E. coli.
 

 
II. MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cawan petri, cotton bud steril, korek api, pembakar bunsen, wrapper, pipet ukur 1 ml, filler, botol steril, drugalsky, dan inkubator.

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu media Nutrient Agar, bakteri Escherechia coli cair, alkohol dan air sampel yang berasal dari 0,1 ml limbah cair kotoran sapi, kotoran kambing, kotoran ayam, kotoran kelinci, kotoran bebek, dan air kloset.

 

B. Metode

  1. Sampel air yang diduga mengandung virus dimasukan ke dalam botol sampel.
  2. Tiga media pertumbuhan bakteri (NA) disiapkan. Satu media NA mengandung isolat E. coli, satu media mengandung sampel limbah cair tanpa E. coli, dan satu media yang mengandung campuran isolate E. coli dan sampel limbah cair.
  3. Sampel air diambil sebanyak 0,1 mL dengan menggunakan piper ukur steril dan diinokulasikan secara aseptis pada kedua media NA yang telah disiapkan.
  4. Sampel air diratakan dengan menggunakan drugalsky.
  5. Diinkubasi selama 2X24 jam dengan suhu 370C
  6. Diamati pembentukan Plaque yang terjadi, apabila terbentuk Plaque pada koloni pertumbuhan bakteri, maka diduga terdapat virus yang melisiskan bakteri.

 

 III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Data Pengamatan Metode Plaque Rombongan II

Kelompok Jenis Limbah Cair Keterangan Plaque
E. coli Sampel E. coli+sampel
1 1 Kotoran sapi  
2 2 Kotoran ayam  
3 3 Kotoran kambing  
4 4 Kotoran kelinci  
5 5 Kotoran bebek  
6 6 Air kloset  

 

keterangan: (+) terdapat zona jernih ; (-) tidak terdapat zona jernih

 

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil praktikum, tidak terdapat plaque pada media NAsetelah E. coli cair dan sampel air limbah diinokulasikan dan diinkubasi selama 2X24  jam pada suhu 370C. Tidak adanya plaque yang terbentuk menunjukan hasil  yang negatif, dengan kata lain tidak terdapat sel bakteri yang lisis akibat terinfeksi virus yang terkandung dalam sampel air limbah. Reseptor pada sel E. coli  diduga tidak sesuai denganvirus yang terkandung dalam sampel air limbah pada praktikum ini. Plaque merupakan daerah kecil yang bersih disebabkan oleh adanya pelisisan dinding sel bakteri yang disebabkan oleh virus. Reseptor merupakan daerah khas tempat pelekatan virus bagi fag tertentu. Fag jenis lain tidak dapat melekat pada reseptor yang tidak sesuai (Aryulina,2007).

Metode plaque merupakan metode yang umum digunakan dalam melihat kuantitas infeksi virus dan  substansi virus. Infeksi partikel virus mengalami multiplikasi pada area yang ditumbuhi bakteri. Sel-sel yang terinfeksi menghasilkan zona jernih atau biasa disebut plaque. Plaque  merupakan daerah yang jelas pada bidang buram, mengindikasikan bakteri yang lisis oleh agen berupa  virus atau antibiotik. Plaque akan terlihat pada sel-sel yang mati atau rusak (Suryati, 2007). Metode Plaque didasarkan pada timbulnya daerah kecil yang bersih disebabkan oleh adanya pelisisan dinding sel bakteri yang disebabkan oleh virus. Metode ini dapat digunakan untuk menguji adanya bakteriofag pada hewan ataupun pada tumbuhan. Metode plaque digunakan untuk mengukur atau melihat virus secara teliti sampai ke konsentrasi yang tepat (Smith, 1980).

Kelebihan metode plaque adalah metode yang sederhana, mudah dilakukan dan biayanya terjangkau. Namun, penghitungan jumlah virus yang menginfeksi tidak spesifik dikarenakan hanya diasumsikan bahwa satu zona jernih adalah satu virus. Kekurangan metode plaque adalah tidak dapat mendeteksi jenis virus yang ada pada media NA (Suryati, 2007).

Virus menginfeksi sel bakteri, sel hewan, atau sel tumbuhan untuk bereproduksi. Ada dua macam cara virus menginfeksi sel hospes, yaitu secara litik dan secara lisogenik. Virus yang melisiskan sel bakteri adalah bakteriofage. Bakteriofage termasuk ke dalam ordo Caudovirales. Salah satu contoh bakteriofage adalah T4 virus yang menyerang bakteri Eschericia coli. Virus yang membunuh bakteri melalui lisis intraseluler telah ditemukan sejak abad ke-20 oleh Frederick Twort dan disebut sebagai bacteriophages atau phages (Anderson, 2011).

Bakteriofag (phage) merupakan virus yang menginfeksi bakteri, dapat menyebabkan bakteri lisis dan mati setelah bakteriofag berkembang biak di dalam bakteri dan keluar dari bakteri dengan jumlah yang sangat banyak. Virulent phage (bakteriofag yang eksklusif mengakibatkan lisis) memiliki banyak keuntungan sebagai biokontrol maupun agen terapi karena kemampuannya dalam menyerang bakteri dan tidak mempunyai pengaruh terhadap jenis sel lain termasuk sel manusia, hewan dan tanaman (Nindita & Wardani, 2013).Bakteriofag (faga) adalah virus yang menginfeksi  inang  selektif  bakteri dan memanfaatkan organel  seluler dari inang untuk memperbanyak dirinya. Faga cocok sebagai reagen untuk mendeteksi adanya bakteri karena dalam sampel karena mereka  memperbanyak jumlahnya secara alami, virus menginfeksi inang yang ditargetkan,  merupakan spesies atau serotipe spesifik dan ini  mengurangi spesifisitas kemungkinan hasil positif palsu,membutuhkan reagen tunggal,faga dapat  diproduksi dalam jumlah besar dengan biaya rendah, dapat disimpan untuk  waktu yang lama dalam keadaan kering, tidak menimbulkan ancaman bagi manusia dan dapat ditangani tanpa takut infeksi atau penyakit, dan dapat direkayasa untuk coexpress enzim atau peptida  urutan yang tidak native dinyatakan dalam sasaran (Derda et al., 2013).

Tiap limbah peternakan diasumsikan mengandung virus yang berbeda-beda. Peternakan ayam, misalnya, kemungkinan virus yang terdapat adalah virus penyebab penyakit tetelo, virus penyebab penyakit kanker pada ayam, dan virus penyebab penyakit flu burung. Virus penyebab penyakit tetelo disebut dengan New Castle Disease Virus (NCDV). Virus penyebab penyakit kanker pada ayam adalah Rous Sarcoma Virus (RSV) dan virus penyebab flu burung adalah H5N1. Virus yang kemungkinan terdapat pada sampel limbah peternakan sapi adalah virus jenis Cow Pea Mosaic Virus (CPMV). Virus yang kemungkinan terdapat limbah peternakan kambing adalah Caprine arthritis-encephalitis virus (CAEV) (Johnson et al., 1983).Limbah cair sapi dimungkinkan terdapat virus small pox, sapi gila atau pun lainnya. Sampel limbah cair dari ternak ayam bias terdapat Virus Avian Influenza atau Newcastle Disease Virus. Virus pada ikan misalnya Carp Interstitial Nephritis and Gill Necrosis Virus (CNGV), Cyprinid Herpesvirus (KHV) (Suwarno, 2006).

Virus akan menginfeksi suatu organisme atau sel inang, ketika organisme atau sel inang tersebut memiliki reseptor yang sesuai. Reseptor merupakan tempat pelekatan virus pada sel inang, merupakan protein khusus pada membran plasma sel inang yang mengenali virus. Virus juga dapat menyerang bakteri lain selain E. coli apabila bakteri tersebut memiliki reseptor yang sesuai. E. coli merupakan bakteri yang hidup pada saluran pencernaan yang resisten terhadap beberapa antibiotik (Krisnaningsih et al., 2012) . Bakteri E. coli digunakan sebagai isolat dalam praktikum ini, karena bakteri E.coli lebih mudah di isolasi atau dengan kata lain bakteri E.coli lebih  mudah didapatkan.  Plaque yang terbentuk karena lisisnya E. coli terlihat lebih jelas sehingga lebih mudah untuk di amati (Deri, 2008).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Metode plaque merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui adanya virus yang melisiskan sel bakteri.
  2. Plaque pada media NA akan terlihat apabila virus yang ada didalam media NA melisiskan inangnya yaitu bakteri E.coli.

                                                                                                  

B. Saran

Metode plaque merupakan metode yang sederhana dalam mendeteksi adanya virus, tetapi perlu ketelitian agar hasil yang disimpulkan akurat, karena zona yang terbentuk pada hasil praktikum tidak terlalu jelas.

 

DAFTAR REFERENSI

Bagi yang membutuhkan dafren lengkap, silahkan komen dibawah, atau silahkan tulis email temen-temen di chatbox. Terimakasih 🙂

SEMOGA BERMANFAAT

 

If You’re Not The One (Jika Itu Bukanlah Dirimu)_Daniel Bedingfield

 

maxresdefault

If You’re Not The One (Jika Itu Bukanlah Dirimu) – Daniel Bedingfield

 

If you’re not the one then why does my soul feel glad today?
If you’re not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine then why does your heart return my call?
If you are not mine would I have the strength to stand at all?

I never know what the future brings 
But I know you’re here with me now
We’ll make it through 
And I hope you are the one I share my life with

I don’t wanna run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I can stay in your arms?

If I don’t need you then why am I crying on my bed?
If I don’t need you then why does your name resound in my head?
If you’re not for me then why does this distance maim my life?
If you’re not for me then why do I dream of you as my wife?

I don’t know life so far away 
But I know that its just a trip
We’ll make it through 
And I hope you are the one I share my life with
And I wish that you could be the one I die with
And I’m praying you’re the one I’Ve build my home with
I hope I love you all my life

I don’t wanna run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay in your arms?

‘Cause I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away
And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today
‘Cause I love you, whether it’s wrong or right
And though I can’t be with you tonight
You know my heart is by your side

I don’t wanna run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay in your arms? 

Terjemahan Indonesia

Jika itu bukan dirimu
Mengapa hatiku merasa gembira hari ini?
Jika itu bukan dirimu
Mengapa tanganku seserasi ini dengan tanganmu?

Jika kau bukan milikku
Mengapa hatimu membalas panggilanku?
Jika kau bukan milikku
Mungkinkah aku punya kekuatan untuk berdiri?

Aku tidak pernah tahu apa yang dibawa sang masa depan
Tapi aku tahu kau di sini bersamaku saat ini.
Kita akan melaluinya.
Dan kuharap denganmulah akan kuhabiskan sisa hidupku.

Aku tidak ingin melarikan diri, tapi aku tidak bisa terima, aku tidak mengerti
Jika aku tidaklah tercipta untukmu, mengapa hatiku berkata lain?
Adakah jalan lain agar aku bisa tetap tinggal dalam rangkulanmu?

Jika aku tidak membutuhkanmu
Mengapa aku menangis di atas ranjangku?
Jika aku tidak membutuhkanmu
Mengapa namamu menggema di kepalaku?
Jika kau bukanlah untukku
Mengapa jarak antara kita mengoyakkan hidupku?
Jika kau bukanlah untukku
Mengapa aku memimpikanmu sebagai istriku?

Sampai sejauh ini aku tidak mengerti hidup
Tapi aku tahu ia hanyalah perjalanan.
Kita akan melaluinya.
Dan kuharap denganmulah akan kuhabiskan sisa hidupku.
Dan aku berharap bersamamulah aku akan mati.
Dan aku berdoa semoga denganmulah akan kubangun rumahku.
Kuharap aku mencintaimu sepanjang hidupku.

Aku tidak ingin melarikan diri, tapi aku tidak bisa terima, aku tidak mengerti
Jika aku tidaklah tercipta untukmu, mengapa hatiku berkata lain?
Adakah jalan lain agar aku bisa tetap tinggal dalam rangkulanmu?

Karena aku merindukanmu, jiwa dan raga, sangat kuat
Sampai-sampai aku kehabisan nafas.
Dan akupun menghirup dirimu ke dalam hatiku
Dan berdoa semoga aku punya kekuatan untuk berdiri hari ini
Karena aku mencintaimu, aku tidak peduli ini benar atau salah
Dan meskipun aku tidak bisa bersamamu malam ini
Kau tahu hatiku berada di sisimu.
Aku tidak ingin melarikan diri, tapi aku tidak bisa terima, aku tidak mengerti
Jika aku tidaklah tercipta untukmu, mengapa hatiku berkata lain?
Adakah jalan lain agar aku bisa tetap tinggal dalam rangkulanmu?
tumblr_l25c42Rsa51qbizygo1_500
HAYUNO SAKURA PRESENT

Happy B’day

ayu

Happy B’day

Tentang apa yang ingin aku sampaikan…
Mungkin nggak akan merubah apapun,
Tentang apa yang ingin aku ungkapkan…
Mungkin nggak akan mengetuk hati siapapun,

Tapi hanya ini yang aku punya
sebagai kado terbaik yang bisa aku berikan kepadamu

Lukisan Kata

Kulukis kata hatiku
di dinding-dinding rumah tua
Aku melukisnya
dengan jari telunjukku
“Sayang, I miss you”

Kulukis kata hatiku
pada segumpal awan putih di atas sana
Aku melukisnya
dengan memejamkan mata
“Cinta, I love you”
Berharap angin menerbangkannya
menujumu…

Namun,
Jika pesan itu
tak pernah sampai kepadamu
Percayalah bahwa aku
pernah menuliskannya

Namun,
Jika lukisan kataku
tak pernah mengetuk pintu hatimu
Percayalah bahwa aku
masih berada di depan pintu itu

Hanya sekedar ingin mengucapkan
Selamat Ulang Tahun, sayangku….

UNDEFINED 

By: Chayyu Latifah

Sayangnya, bahkan ucapanku ini ngga bisa disampaikan pada waktu yang tepat. Atau aku yang begitu bodoh, jika dibohongipun aku tetap saja percaya, aku tetap percaya, aku tetap percaya. Apa aku sebodoh itu? Jangan bohongi aku, aku sama sekali ngga tau apapun disini..