NOMADEN

imageedit_3_8078469052

Apa yang paling kau sukai dari malam, kawan? Lampu-lampu di jalanan, angin yang berhembus atau bulan yang selalu bermetamorfosis tak ubahnya kupu-kupu?

Namaku Yoru. Nama yang indah bukan, seindah saat kupejamkan mata di malam hari, perasaan tenang dan nyaman yang selalu kuinginkan itu akan muncul jika kuingat arti namaku sendiri. Bagiku seburuk apapun siang telah menelanjangiku, aku masih mempunyai malam. Bangku panjang di dekat jendela kamarku sebagai saksinya bahwa terkadang manusia modern seperti kita akan menjadi primitif saat waktu mencampakkannya.

Jutaan kali aku memandangi wajah itu, aku tak pernah merasa bosan. Namanya Albert, teman bermainku. Aku suka memandanginya dan dia suka memandangi wajahku, lalu kami saling berpandangan dan kemudian tersenyum malu. Namun saat aku SMP, kami berpisah hingga akhirnya aku tak pernah melihatnya lagi. Berpisah dengan Albert, aku bertemu dengan Dio. Seperti halnya dengan Albert dulu, aku senang memandanginya, terutama saat Dio sedang bermain sepak bola, mengesankan dan aku tak pernah bosan. Tapi saat aku masuk SMA, aku dan Dio pun berpisah, dimana dihari terakhir kami bertemu dia baru menyatakan perasaannya padaku. Mengesankan sekaligus miris. Begitu seterusnya, bahkan aku pernah berpisah dengan Ayah dan Ibuku, orang-orang yang dekat denganku, sahabat-sahabatku, dan masih banyak lagi orang yang telah hilir mudik dalam kehidupanku. Di bangku panjang dekat jendela kamar ini aku selalu merenung, berapa kali aku akan bertemu dan berpisah lagi? Akankah sebanyak manusia berahang besar berpindah-pindah tempat sepanjang hidupnya? Mengesankan, benar-benar membuatku terharu sekaligus ngilu.

***

Andai aku mempunyai kakak, pasti tak akan kesepian begini. Aku bisa berbagi cerita, bercanda, meminta ia menghiburku, mengelus-elus rambutku, membantu mengerjakan PR-ku, dan dalam segala hal aku ingin mempunyai seorang kakak. Di dunia yang kejam ini secara teoritis aku mempunyai kakak, dia adalah anak kandung Ayahku. Namanya Erni Susanti, seorang perempuan yang cantik, anggun, rambutnya panjang dan lurus sepertiku. Aku mengaguminya, meskipun seumur hidupku aku hanya pernah bertemu dengannya sekali. Sekali lagi, aku telah dicampakkan jarak dan waktu. Sekali lagi, aku bertemu untuk berpisah. Baiklah, aku tak akan mengeluh, Tuhan tak suka hamba-Nya mengeluh. Daripada kuhabiskan sisa hidupku untuk menangisi nasib, lebih baik aku mengadopsi kakak. Tak mudah memang mencari kakak yang dapat memahamiku, tapi dengan seleksi yang ketat, baik bibit, bebet, dan bobotnya, akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada Novelis terkenal di negri ini, Bang Ikal, alias Andrea Hirata dan pada Sang Malam sebagai kakak perempuanku yang sangat cantik. Ini adalah rahasia di buku diary-ku, jadi aku pastikan semua orang masih menganggapku waras. Aku memilih Bang Ikal, bukan karena wajahnya yang rupawan seperti Jung Yong Hwa, salah satu artis Korea yang sempat ingin kurekrut menjadi kakakku, tapi kuurungkan karena Jung Yong Hwa terlalu tampan. Aku mengincarnya sebagai Kekasihku saja dimasa mendatang. Jadi, alasan aku memilih Bang Ikal sebagai kakakku adalah semua novel karyanya membuatku hidup. Jika dalam keadaan sekarat akibat asma, tulisan-tulisannya adalah oksigen untukku. Aku janji akan menjadi adik yang baik, Bang Ikal. Aku janji. Kemudian Sang Malam, alasan mengapa aku memilihnya adalah karena ia sangat cantik dengan bulan dan bintang di sisinya. Sifatnya yang anggun membuat aku rindu kakakku. Selain itu, buku diary-ku akan penuh coretan juga hanya pada saat malam menjelang, artinya sejak dulu ia memang selalu menemani sepiku.

***

Malam itu aku sedang bermalas-malasan dikamar, cuaca di luar terlalu dingin, jadi semoga kakak perempuanku memaafkanku karena meninggalkannya sendirian diluar rumah. Entah sakit gila nomor berapa jika Bang Ikal mengetahuinya karena pelajaran moral yang selalu kudapat dari Bang Ikal masih belum cukup meredakan kekecewaan batinku ini. Setengah jam sudah suasana hening menyanderaku, mataku terus tertuju pada tumpukan buku-buku kecil berwarna-warni di rak buku. Lama aku perhatikan, akhirnya kudekati tumpukan buku kecil berwarna-warni itu, kutiup debu-debu yang melekat padanya, dan kubuka lembar demi lembar hingga rasanya aku memasuki lorong waktu.

“Yoru, Yoru, Kamu baik-baik saja?” Kata Albert.

“Sini, aku tiup biar nggak sakit. Lutut kamu berdarah”

Albert meniup-niup luka pada lututku. Aku hanya meringis kesakitan dan hampir menangis saat melihat darah keluar dari luka dilutut kananku akibat jatuh dari sepeda. Sore itu aku sedang bersepeda bersama Albert, kami berdua ingin mencari bunga Rafflesia arnoldii. Saat diajak ayah dan Ibuku ke taman yang tidak jauh dari rumahku sepertinya aku pernah melihat bunga itu tumbuh liar. Bunganya yang indah berwarna merah magenta pada bagian luar dan pada bagian yang menjulang. Tangkai bunga berwarna hijau segar dan dipenuhi noda-noda pucat. Aku ingin menunjukkannya pada Albert karena ia sangat tertarik pada bunga yang diceritakan ibu guru dikelas hari itu, menurutnya bunga itu menakjubkan  karena kakek moyangnya sangat hebat dapat menemukan bunga terbesar di dunia. Wajar saja Albert bangga karena ia masih berdarah Inggris seperti Thomas Stamford Raffles, sang penemu bunga bangkai itu. Ayah Albert adalah orang Inggris dan Ibunya adalah orang Indonesia. Pantas aku suka memandangnya, ternyata matanya yang berwarna biru seperti permen Relaxa itulah yang membuatku merasa dia berbeda dari yang lain. Bukan karena cinta atau alasan lain, saat itu aku dan Albert kan masih SD.

Dengan menahan sakit, kubujuk Albert untuk melanjutkan ekspedisi Rafflesia arnoldii kita,

“Aku baik-baik saja, Albert. Ayo kita lanjutkan, tempatnya nggak jauh kok dari sini”.

“Okai”.

Albert setuju, kamipun bergegas. Sesampainya di taman itu, kutunjukkan bunga yang kita cari. Banyak sekali bunga bangkai disana, warnanya merah ke-ungu-an dan bau busuknya menyengat, meski ukurannya tidak sebesar yang kami bayangkan. Kami terpana dan takjub dibuatnya.

Rafflesia arnoldii

Ekspedisi Rafflesia arnoldii tamat. Kututup diary-ku dengan menahan tawa membayangkan petualangan paling konyol itu. Sebagai mahasiswa Biologi, sekarang aku paham betul ciri-ciri yang kusebutkan pada bunga itu bukanlah Rafflesia arnoldii, melainkan Amorphophallus paeoniifolius.  A. paeoniifolius mempunyai nama lokal acung (Sunda), kerubut (Sumatra), badur (Jawa) dan secara umum disebut Suweg oleh masyarakat Indonesia. Tumbuhan ini memang mempunyai bunga yang mengeluarkan bau busuk seperti Rafflesia arnoldii, tapi bila dilihat kekerabatannya kedua bunga ini berkerabat jauh. Jadi, mungkin nun jauh disana, Albert juga pasti telah menertawakannya lebih dulu. Aku merindukanmu, Albert. Apakah kamu baik-baik disana? Sudah pernah melihat Rafflesia arnoldii yang asli di Bengkulu? Aku belum.

Kubuka lagi buku diary-ku saat pertama aku mengenal Dio. Albert telah pergi ke negara ayahnya, jadi kuputuskan untuk mencari teman lagi, yang tentunya suka melakukan hal-hal konyol seperti aku dan Albert. Hal konyol yang aku maksud adalah ekspedisi-ekspedisi remeh temeh yang kuanggap menakjubkan. Aku suka berpetualang dan menemukan hal baru. Yeah!

Saat itu pemilihan ketua kelas, semua orang memilih orang lain dan aku satu-satunya orang yang memilih Dio. Alasannya, dia kapten sepak bola. Tak masuk akal memang, tapi jangan heran pada takdir karena apapun bisa terjadi jika Tuhan mencatatnya demikian. Akhirnya Dio tahu, aku sering melihatnya bermain sepak bola. Aku adalah Milanisty dan Dio adalah True Blue sejati. Tak pernah kehabisan bahan obrolan ketika kami bersama, selain itu taruhan-taruhan gila semakin membuat tebal isi buku diary bergambar Winnie the pooh itu. Bukan hanya Dio, aku juga memiliki semacam geng yang terdiri dari empat orang gila, termasuk aku didalamnya. Ekspedisi-ekspedisiku dengan Dio dan semacam geng itu merupakan jenis yang berbeda, sehingga saat kucatat di buku diary-ku, halaman depan sampai tengah untuk Emi, Karin dan Akira, sedangkan halaman belakang sampai tengah untuk Dio. Kemudian aku membeli buku diary lagi untuk menulis ceritaku bersama selain mereka. Anehnya, aku tak pernah merasa bosan. Aku bahagia telah mengenal mereka semua, meskipun akhirnya kututup buku-buku itu dengan kata perpisahan. Ditengah-tengah petualanganku bersama Emi, Karin dan Akira adalah kali pertamanya aku mengenal Bang Ikal dari karya-karyanya. Sehingga aku hanya menangis lima kali dalam sehari saat akan berpisah dengan sahabat-sahabatku, sebelumnya aku membayangkan akan menangis sepuluh kali. Terima kasih Bang Ikal.

“Yoru, kalau kamu mau jadi pacarku, mungkin AC Milan akan lebih banyak pendukungnya?” Kata Dio dengan gugup.

“Maksud kamu?”

“Aku akan murtad dari Chelsea”

Aku tertegun dan tak percaya pada pendengaranku, Dio adalah True Blue sejati. Aku tak mungkin tega membuatnya murtad dari The Blues yang dibelanya sejak dulu. Hari itu adalah terakhir kalinya aku bertemu Dio di lapangan sekolah, dia akan mengikuti banyak turnamen sepak bola karena prestasinya yang semakin cemerlang. Akupun sama, aku akan pergi jauh untuk menggapai cita-citaku menjadi seorang scientist, aku masih ingin menunjukkan pada Albert bunga Rafflesia arnoldii yang sesungguhnya. Kutatap Dio dengan seksama,

“Jangan hianati, Avram Grant”

TAMAT

Buku diary itu tamat lagi, dan aku lega dapat menolak Dio dengan cara yang tak akan menyakiti hatinya, aku ingin dia menjadi pemain bola profesional seperti cita-citanya. Jika aku menerimanya saat itu, sepertinya aku akan banyak membuat dia kesulitan. Malam itu aku terlelap diantara buku-buku kecil warna-warni yang berserakan. Senang telah mengenalmu, Dio.

***

to be continued..

Sebagian cerita ini bukan fiktif belaka. Apabila terdapat kesamaan baik tokoh, karakter dan jalan cerita aku mohon maaf sebesar-besarnya. Seperti melempar botol di laut lepas,aku hanya ingin kakakku membacanya. Jika saat bertemu kakakku dulu aku agak sedikit pintar, mungkin aku akan tanya facebook, email, atau twitternya, tapi saat itu aku benar-benar masih kecil dan hanya mengingat dia sangat cantik. I miss you, kak Erni Susanti. Aku janji akan menyelesaikan cerita ini dengan akhir yang bahagia. Adikmu, Chayyu Latifah”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s