PENGENDALIAN PENYAKIT TUMBUHAN DENGAN METODE PASIR-OATMEAL

1524762_781022628580435_996029884_nGambar 1. Metode Pasir Oatmeal

Pengendalian secara hayati merupakan upaya yang dapat diterapkan dalam mengatasi serangan patogen pada tanaman. Pengendalian dengan cara seperti ini pada dasarnya mengandalkan kemampuan antagonistik jamur antagonis terhadap jamur patogen yang melibatkan mekanisme kompetisi, eksploitasi atau antibiosis. Metode pengendalian pasir oatmeal ini digunakan oleh Saraswathi et al. (2012), dalam penelitiannya pada saat inokulasi S.rolfsii.  Kultur oatmeal-pasir berumur sepuluh hari S.rolfsii dicampur secara merata dengan tanah disterilkan pada 10%.

Alat-alat yang digunakan adalah autoklaf untuk sterilisasi alat dan bahan menggunakan uap panas bertekanan, cawan petri berfungsi untuk pembiakan sel, labu erlenmeyer berfungsi untuk Untuk menampung larutan, bahan atau cairan. Pinset berfungsi untuk Untuk mengambil benda dengan menjepit, oven berfungsi berfungsi untuk sterilisasi alat dan bahan yang bersifat kering, bunsen berfungsi untuk memanaskan medium, mensterilkan  jarum inokulasi dan alat-alat yang terbuat dari platina dan nikrom dan timbangan digunakan untuk menimbang bahan yang akan digunakan. Laminar air Flow (LAF) digunakan sebagai tempat kerja aseptis dan ayakan digunakan untuk memisahkan pasir dengan sklerotia.

Bahan-bahan yang digunakan adalah jamur antagonis Trichoderma harzianum dan jamur patogen Sclerotium rolfsii sebagai isolat yang diujikan, media PDA berfungsi untuk media pertumbuhan yang berbentuk padat, media agar air berfungsi untuk menumbuhkan jamur, butiran pasir digunakan untuk menggantikan media tanah karena tidak mudah menggumpal dan pri-porinya lebih besar dari tanah, sereal oatmeal berfungsi sebagai nutrisi untuk jamur.

            Sclerotium rolfsii menyebabkan kerusakan parah selama setiap tahap pertumbuhan tanaman (Saraswathi et al., 2012). S.rolfsii dapat tumbuh pada kisaran suhu 8°C – 40°C dan optimum pada suhu 27°C – 30°C. Sklerotia lebih cepat dan banyak terbentuk pada suhu 30°C. Pada suhu 35°C dan 13°C sklerotia terbentuk setelah 5 minggu dan mengalami keabnormalan bentuk. Sklerotia dapat berkecambah pada suhu 13°C. Suhu optimum untuk perkecambahan Sclerotium sp. berkisar antara 20°C – 30°C. sedangkan di bawah suhu 15°C atau di atas 36°C sulit tejadi perkecambahan. Hasil pengamatan pada suhu 27°C sklerotia terbentuk setelah 14 hari pada media agar kentang dekstrosa, sklerotia berbentuk bulat dengan diameter 1,10 mm sampai lonjong dengan ukuran 2.58 x 1.66 nun, wama mula-mula putih lalu berubah menjadi coklat kehitam-hitaman. pada permukaan sklerotia tidak terdapat cekungan dan relatif halus. Sklerotia dari S. rolfsii bemkuran 1.39-2.69 mm, berwarna coklat tua dengan permukaan yang relatif sama, tidak terdapat cekungan dan sklerotia yang dibentuk lebih banyak bila dibandingkan dengan S. delphinii (Sukamto et al., 1996).

Trichoderma spp. merupakan jamur asli tanah yang bersifat menguntungkan karena mempunyai sifat antagonis yang tinggi terhadap jamur-jamur patogen tanaman budidaya. Mekanisme pengendalian yang bersifat spesifik target dan mampu meningkatkan hasil produksi tanaman, menjadi keunggulan tersendiri bagi jamur Trichoderma spp. ini sebagai agen pengendali hayati. Trichoderma spp. adalah jamur saprofit tanah yang secara alami merupakan parasit yang menyerang banyak jenis jamur penyebab penyakit tanaman (spektrum pengendalian luas). Jamur Trichoderma spp. dapat menjadi hiperparasit pada beberapa jenis jamur penyebab penyakit tanaman, pertumbuhannya sangat cepat dan tidak menjadi penyakit untuk tanaman tingkat tinggi. Mekanisme antagonis yang dilakukan adalah berupa persaingan hidup, parasitisme, antibiosis dan lisis (Purwantisari dan Rini, 2009).

Sklerotia adalah fase saprogenesa pada siklus hidup S. rolfsii. S. rolfsii mempunyai dua fase hidup, yaitu fase patogenesa dan fase saprogenesa. Fase patogenesa dicirikan dengan pertumbuhan hifa berwarna putih. Fase tersebut, keadaan lingkungan di atas permukaan tanah atau beberapa sentimeter di dalam tanah yang cocok untuk perkembangan miselia, akan meningkatkan patogenitasnya. Fase saprogenesa terjadi bila tidak ada inang di lapang, keadaan lingkungan tidak menguntungkan atau terdapat antagonis mikroflora tanah yang membatasi perkembangannya. Fase itu, dibentuk sklerotia yang merupakan penggumpalan keras hifa vegetatif, yang mengandung persediaan makanan (Buttler, 1996). Rifai (1983), menambahkan bahwa sklerotia terdiri atas empat lapis, yaitu kutikula yang terjadi dari sisa-sisa dinding sel, lapisan kulit setebal 2-4 sel, yang berdinding tebal dan pipih, lapisan korteks yang tersusun dari sel-sel berdinding tipis, dan bagian dalam yang terdiri dari jaringan prosenhima yang berfungsi sebagai penyimpan makanan.

Sklerotia S. rolfsii bisa mati karena perlakuan kimia maupun mekanik. Sklerotia juga dapat diserang oleh organisme tanah seperti T. lignorum yang menjadi parasit, sehingga pertumbuhan miselia S. rolfsii terhambat dan T. harzianum dapat menyebabkan sklerotia S. rolfsii menjadi busuk (Cooper, 1960). Trichoderma spp. dapat menghasilkan asetaldehid, yang dapat menekan perkecambahan spora, sklerotia S. rolfsii dan melawan beberapa patogen tanah yang lain (Bruehl, 1975).

1471296_766773950005393_956374508_nGambar 2. Sklerotia yang terbentuk

            Hasil pengamatan terhadap pertumbuhan S.rolfsii selama 5 minggu menunjukan bahwa pertumbuhan jamur patogen tidak mampu membentuk miselium. Pemberian T. harzianus bersamaan dengan S. rolfsii dibantu dengan adanya agitasi atau pengocokan menyebabkan pertumbuhan hifa kedua cendawan saling bersinggungan dan berinteraksi. Interaksi antara T. harzianum dengan S.rofsii berbersifat antagonis, menurut Hillocks dan Waller dalam Aziz (2002) menyatakan  Trichoderma sp. merupakan jamur mikoparasitik terhadap jamur patogen tanaman seperti S.rolfsii.  Trichoderma mengelilingi hifa jamur patogen dan menghancurkan dinding hifa secara enzimatik, hal ini menyebabkan pertumbuhan hifa S.rolfsii terhambat sehingga kesempatan S.rolfsii membentuk struktur pertahanan dalam bentuk sklerotia juga terhambat.

LAPORAN PRAKTIKUM FITOPATOLOGI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s