Laporan Etnobotani

PENGGUNAAN TUMBUHAN SEBAGAI BAHAN BAKU KERAJINAN DI DESA MUNJUL DAN DESA BANJARAN KABUPATEN PURBALINGGA

 logo unsoed 2

Oleh :

Chayyu Latifah

B1J011036

 

 

                                  

 

 LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN ETNOBOTANI

 

 

 

  

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS BIOLOGI

PURWOKERTO

2013

I.          PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang

Etnobotani merupakan bidang ilmu yang cakupannya interdisipliner, mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan sumberdaya alam tumbuhan dan lingkungannya. Oleh karena itu, bahasannya bersinggungan dengan ilmu-ilmu alamiah dan dengan ilmu-ilmu sosial seperti salah satunya adalah pengetahuan sosial budaya, sehingga etnobotani sangat berkepentingan mengikuti dari dekat perkembangan yang berlangsung baik di seputar persoalan etnik maupun dalam bidang botani, yang pada saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan yang sifatnya global. Peran dan penerapan data etnobotani memiliki dua keuntungan yaitu keutungan ekonomi dan keuntungan dalam pengembangan dan konservasi sumber daya alam hayati. Keuntungan ekonomi ditunjukkan oleh peran penelitian etnobotani masa kini yang dapat mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan yang memiliki potensi ekonomi. Keuntungan lainnya adalah pengungkapan sistem pengelolaan sumberdaya alam Iingkungan secara tradisional mempunyai andil yang penting dalam program konservasi, penerapan teknik tradisionai dalam mengkonservasi jenis-jenis khusus dan habitat yang mudah rusak serta konservasi tradisional plasma nutfah tanaman budidaya guna program pemuliaan masa datang. Untuk dapat berperan dengan baik dan bermakna maka etnobotani harus mampu mengaktuatkan diri dan malnpu memberikan sumber data yang dapat menunjang pengembangan ilmu dan teknologi, khususnya pengembangan bioteknologi (Purwanto, 1999).

Penelitian tentang pernanfaatan tumbuhan secara tradisional dan pengelolaannya tidak hanya aspek fisik dan kandungan kimianya, tetapi juga aspek ekologi, proses domestikasi, sistem pertanian tradisional, paleoetnobotani dan pengaruh aktivitas manusia terhadap alam lingkungannya (etnoekologi), etnotaksonomi dan ilmu sosial lainnya. Data hasil penelitian etnobotani dapat memberikan informasi tentang hubungan antara manusia dengan tanaman dan lingkungan dari masa lalu dan masa sekarang (Purwanto, 1999). Tumbuh-tumbuhan mempunyai peranan penting dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, baik sebagai sumber pangan, pakan, papan, bahan industri, maupun sumber yang dapat memberikan rasa kesegaran dan kenyamanan. Tidak kurang dari 3000 jenis tumbuhan di Indonesia baik yang berupa pohon maupun yang bukan pohon dilaporkan bisa dimanfaatkan (Heyne, 1987).

 B.       Tujuan

Mengetahui jenis tumbuhan apa saja yang digunakan sebagai bahan baku kerajinan oleh masyarakat di Desa Munjul dan Desa Banjaran, Kabupaten Purbalingga, serta proses pengolahannya.

 II.       MATERI DAN METODE

A.       Materi

Materi yang digunakan dalam praktikum lapangan ini adalah kamera, alat tulis, dan buku catatan.

 B.       Metode

Metode yang digunakan dalam praktikum lapangan ini adalah metode wawancara semi-struktural, yaitu sebagai berikut:

  1. Wawancara pertama dilakukan di Desa Munjul dengan salah satu pengrajin yaitu Bapak Tato mengenai bahan baku, proses pembuatan dan pemasaran sapu lidi.
  2. Wawancara dilanjutkan dengan pengrajin berikutnya di Desa Mujul, yaitu Bapak Maksum, seorang pengrajin sapu lidi dan sapu tebah kasur yang cara pembuatannya melalui proses pewarnaan terlebih dahulu.
  3. Wawancara juga dilakukan dengan pengrajin sapu yang gagangnya menggunakan tumbuhan Glagah.
  4. Dilanjutkan ke Desa Banjaran, wawancara dilakukan dengan para pengrajin bambu.
  5. Hasil wawancara kemudian disatukan untuk dianalisis dan dibuat laporan.

 III.    HASIL DAN PEMBAHASAN

  • A.       Hasil (foto)

A.       Pembahasan

Perubahan zaman saat ini dimana menurunnya sumber daya alam dan menurunnya kualitas lingkungan menuntut kebutuhan material yang berkelanjutan dan terjangkau secara finansial. Agar suatu material dikatakan berkelanjutan dan terjangkau secara finansial harus memenuhi berbagai syarat, antara lain dampak atau efeknya terhadap manusia dan lingkungan, energi dan sumberdaya yang dipakai memproduksinya, limbah dan dampak yang dihasilkan untuk memproduksinya, biaya perawatan dan konstruksinya, ketahanannya, apakah dapat didaur atau dipakai ulang, apakah dapat diperbaharui, tingkat kecepatan untuk terurai secara biologis, dan tingkat kesulitan atau biaya untuk mendapatkan material tersebut. Solusi yang dapat diambil adalah dengan memanfaatkan alam dengan baik, seperti pemanfaatan tumbuhan yang lebih ramah lingkungan (Mustakim et al., 2009).

Kelapa adalah salah satu jenis tanaman serba guna dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Seluruh bagian pohon kelapa dapat memberikan manfaat bagi manusia mulai dari akar hingga bagian daun dan tentunya buahnya. Kelapa yang dalam bahasa latin dikenal dengan nama Cocos nucifera adalah salah satu pohon tropis yang masuk kedalam suku aren-arenan. Pohon kelapa merupakan salah satu pohon yang bisa hidup hingga puluhan tahun lamanya, tanaman yang banyak tumbuh diarea pantai ini dapat tumbuh dengan baik pada daerah dengan curah hujan 1300-2300 mm/tahun atau bahkan lebih, daerah dengan ketinggian 600 m diatas permukaan air laut, serta daerah dengan intensitas sinar matahari yang cukup (Tanaman Obat, 2013).

Selain pohon kelapa, bambu juga memiliki manfaat jenis yang beragam. Terdapat 75 genus dan 1.500 spesies bambu di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri dikenal ada 10 genus bambu, antara lain Arundinaria, Bambusa, Dendrocalamus, Dinochloa, Gigantochloa, Melocanna, Nastus, Phyllostachys, Schizostachyum, dan Thyrsostachys. Bambu tergolong keluarga Gramineae (rumput-rumputan) disebut juga Hiant Grass (rumput raksasa), berumpun dan terdiri dari sejumlah batang (buluh) yang tumbuh secara bertahap, dari mulai rebung, batang muda dan sudah dewasa pada umur 3-4 tahun. Batang bambu berbentuk silindris, berbuku-buku, beruas-ruas berongga, berdinding keras, padasetiap buku terdapat mata tunas atau cabang (Berlian dan Rahayu 1995).

Nilai ekspor bambu dari tahun ke tahunmengalami peningkatan dimana hal itu dinyatakan oleh Pusat Statistik dalam Berlian dan Rahayu (1995). Menurut data Biro Pusat Statistik dalam kurun waktu selama lima tahun (1986-1990) ekspor bambu dan hasil olahannya dalam bentuk meubel dan kerajinan terus menerus mengalami peningkatan. Tahun 1989 volume ekspor meubel bambu adalah 16.789 kg dengan nilai sebesar US 230.714 (Simatupang et al., 2012).

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Bapak Tato, warga di Desa Munjul, bahwa produk yang dihasilkan beliau adalah sapu lidi. Bahan yang diperlukan untuk membuat sapu lidi adalah lidi (tulang daun kelapa), bambu, lingen, benang ranse dan pewarna sintetis. Lidi yang digunakan berasal dari daerah Pangandaran, Jawa Barat, sedangkan lingen diperoleh dari rawa-rawa yang di Kroya, Cilacap. Bambu yang digunakan adalah bambu apus atau bambu tali (Gigantochloa apus), tetapi masyarakat di Desa Munjul menyebutnya bambu ancoi. Syarat bambu yang digunakan adalah bambu yang sudah tua, panjang bambu sebagai gagang sapu adalah 80 cm. Lingen (adalah tumbuhan yang hidup dirawa-rawa. Menurut Ahya, seorang pegawai yang bekerja di home produksi milik Bapak Tato, pembuatan sapu lidi ini sudah dilakukan secara turun temurun. Sasaran pemasaran sapu yang mereka hasilkan adalah daerah Boyolali dengan harga Rp 5000,00 perbuah, sedangkan jika diecer harganya Rp 8000,00.

Wawancara kedua dilakukan dengan Bapak Maksum, salah satu pengrajin tebah sapu berbahan dasar lidi di Desa Munjul. Proses pembuatannya pertama-tama adalah pewarnaan lidi menggunakan pemutih atau abu soda yang ditempatkan di bak pewarnaan. Terdapat 3 bak, bak satu untuk pewarnaan, sedangkan bak 2 dan 3 untuk proses pencucian. Alat yang digunakan untuk membuat sapu tebah kasur adalah lidi yang diperoleh dari Pangandaran, benang dan lingen. Bahan yang digunakan adalah pemutih untuk lidi dan pewarna untuk lingen, serta air untuk mencuci. Produk sapu tebah ini dikirim ke Jakarta yaitu PT. indomax untuk kemuadian dipasarkan oleh perusahaan tersebut. Pengrajin yang bekerja di tempat Pak Maksum ada 6 orang dan menghasilkan 50-60 sapu tebah kasur perharinya.

Pemanfaatan bambu sebagai kerajinan menjadi khas terlihat di Desa Banjaran dengan banyaknya pengrajin bilik bambu di desa tersebut. Hasil wawancara yang dilakukan dengan Bapak Sukarjo, salah satu pengrajin bilik bambu didapatkan bahwa bambu yang digunakan sebagai bahan baku bilik diperoleh dari Kecamatan Kaligondong, sekitar daerah Banjaran, dari Banjarnegara, Banyumas dan Kebumen. Ada dua jenis bambu yang digunakan yaitu Bambu wulung dan Bambu tali. Cara pembuatannya yaitu, bambu dipotong 2-3 m, kemudian dibelah 6-8 bagian, dijemur, lalu dianyam. Ukuran bilik yang mereka buat adalah 2×3 m dengan harga Rp 25.000,00/lembar.  Menurut Bapak Sukarjo, kendala yang terjadi adalah ketika musim hujan, produksi akan terhambat pada saat proses penjemuran.


 IV.                   KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan

Berdasarkan tujuan dapat disimpulkan, sebagai berikut:

  1. Jenis tumbuhan yang banyak dimanfaatkan masyarakat untuk bahan baku kerajinan di Desa Munjul adalah tulang daun kelapa (lidi), bambu, dan lingen.
  2. Jenis tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat untuk bahan baku kerajinan di Desa Banjaran adalah bambu, yaitu Bambu Wulung dan Bambu Tali.

B.       Saran

Sebaiknya praktikum dilakukan ditempat industri yang lebih besar, supaya semua mahasiswa dapat memperoleh informasi yang lengkap.


 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s