THE PHOENIX

phoenix-bird-images-free-download

Hampir dua puluh tahun perasaanku dijajah ketidakpuasaan. Menjengkelkan, aku kesulitan keluar dari pusaran segitiga tak bersiku, tak bersisi dan tak berkaki. Aku terjebak terlalu lama dalam khayalanku sendiri. Mimpi ini seperti puncak tertinggi Mount Everest yang hanya kuketahui dari pelajaran Geografi, tanpa pernah aku melihatnya sendiri. Mimpi ini ilusi ter-nyata yang menggoyahkan nuraniku untuk percaya atau melupakannya. Mimpi ini menyiksa seninku, menggoda selasaku, mengganggu rabuku, merusak kamisku, menghempaskan jumatku, merobohkan sabtuku dan mengaburkan mingguku. Aku tak punya hari selain bermimpi. Tak ada kawan yang menggenggam tanganku lalu menguatkanku, mereka meninggalkanku dengan segenap alasan bahwa aku tak realistis, terlalu imaginatif dan naïf. Ah, cukuplah kata-kata terakhir itu yang kusebutkan. Mimpi ini memang seperti memasukkan jari kedalam kipas angin. Itu gila dan konyol… Ya, konyol sekali dan hanya orang gila yang akan melakukannya. Kadang aku berlari menghapus mimpi-mimpi dan mencoba tenang dalam kuburanku, tapi mimpi-mimpi itu menggaliya, menggaliku maksudnya, memberi napas buatan padaku hingga aku tersedak kemudian hidup kembali. atau kadang aku juga berniat jahat, ingin membunuh mimpi-mimpi itu lalu aku yang hidup tenang. Tapi ketika mimpi itu kukubur dan kutancapkan nisan diatasnya, mereka malah menghantui tidurku. Ough, ternyata aku baru sadar orang gila dan konyol itu adalah aku, Fenisia. Dari segi fisik aku rasa aku normal, seperti ibu rambutku panjang dan lurus, tinggiku normal, berat badan normal, wajahku normal, apa yang salah dengaku?! Kepalaku?! Ya, aku tak pernah menyangkal jika teman-teman selalu mengolok-olok isi kepalaku yang penuh dengan khayalan petualangan-petualangan tak masuk akal seperti memasuki dunia mimpi, memasuki dunia dongeng  atau masuk kemasa lalu. Tapi, tetap saja bagiku aku masih normal dan thermometer kewarasanku juga masih berfungsi degan baik. Aku tak pernah mempedulikan ocehan teman-temanku yang menjengkelkan itu.

***

Kecuali detik ini, aku membeku dibelakang sebuah batu besar. Sedikit panik dan gelisah karena aku sepertinya kehilangan jalan pulang kedesa dekat hutan ini. Aku ingat betul ejekan teman-teman SMA-ku. “ Cewek aneh! Kamu itu pantesnya jadi Tarzan atau jadi pemain sirkus aja. Hahaha..” Sampai puas mereka mengejekku ketika aku dulu membawa Felix, burung merpati putih kesayanganku kedalam kelas. Akibat dongeng ibu tentang burung Phoenix lah yang membuatku tergila-gila pada sosok burung khayalan itu. Sampai-sampai aku menganggap merpati adalah burung Phoenix. Sejak kecil ibu selalu membacakan dongeng sebelum tidur sampai aku lulus SMP. Ibuku dulunya adalah seorang single parent yang bekerja diperpustakaan kota. Oleh sebab itu, ibu selalu meminjamkan buku dengan leluasa dan membuatku terobsesi terhadap kisah petualangan dalam buku-buku tersebut. Terutama dongeng tentang burung Phoenix yang membuatku memelihara bermacam-macam burung dan hewan-hewan jinak lainnya dirumah. Rumahku sudah seperti kebun binatang, tapi ngomong-ngomong soal rumah.. “Sekarang aku dimana?! Ini tempat apa?!” Itulah yang membuatku panik. Aku gemetar dan sangat ketakutan karena ini hampir malam dan aku benar-benar kehilangan arah, kemudian aku berusaha mencari lampu senter didalam ranselku. “Aku tidak boleh panik, aku harus menemukan jalan pulang malam ini juga, seaneh apapun aku, aku ini bukan Tarzan ataupun pemain sirkus!” geramku saat mengingat ejekan mereka.

seas-dragons-rain-flying-birds-storm-boats-sharks-vehicles-hd-wallpaper

Kwaaak…

Kwaaaakk…

Aauuuuuuuuuu..

Kwaaaaakkk..

Sssssttttt…

Senja meninggalkanku dan malam mulai merayap dengan bunyi-bunyian yang membuatku bergidik. Ideku memang gila melakukan penelitian kehutan sendirian, tapi aku tak pernah menyangka akan tersesat seperti ini. Tempat ini sedikit asing dari yang kuketahui sebelumnya dan terlihat seperti tak berujung pula. Sebelumnya aku pernah mengunjungi tempat ini beberapa kali bersama Profesor Anthony Jonathan, beliau adalah seorang dosen Ornithology di kampusku dan juga orang yang membiayai kuliahku setelah kematian ibuku. Aku telah menjelajahi semua tempat dihutan ini bersama Prof. Anthony untuk mendata semua spesies yang ada, tak ada satupun tempat yang terlewat. “Mengapa Prof. Anthony tak pernah memberitahuku tentang tempat aneh ini?”. Pohon-pohon yang menemani perjalananku sejak pagi buta tiba-tiba berubah menjadi tebing dan batu-batu besar yang kokoh. Bahkan aku tak menyadari sejak kapan aku tersesat, aku hanya fokus pada kameraku yang asik membidik burung-burung yang aku temui, tanpa memperhatikan jalan. “Sudah kepalang tanggung, setengah jalan, lebih baik aku mencari tempat berlindung dari pada mencari jalan kedesa”  Pikirku.

Bersambung……………………  ^_^

Image

Iklan

One thought on “THE PHOENIX

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s