TUGAS TERSTRUKTUR FITOPATOLOGI

PEMBUKTIAN PENYEBAB PENYAKIT LAYU PADA TANAMAN SEMANGKA DI KARAWANG, JAWA BARAT

  

logo unsoed 2

Disusun Oleh:

 Chayyu Latifah                  B1J011036

Irena Ulva Maharani         B1J011072

 Oktavia Putri R                  B1J011060

 Ilham                                 B1J011076

   Annisa Dwinda F               B1J011082

                                     

 

 

 

TUGAS TERSTRUKTUR FITOPATOLOGI

 

 

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS BIOLOGI

PURWOKERTO

 

2013

I.                   PENDAHULUAN

Semangka merupakan tanaman semusim dari daerah Afrika yang mulai terkenal di Eropa pada abad ke 16 sebagai tanaman liar. Tanaman ini banyak tumbuh di berbagai negara, namun lebih populer di Amerika dibandingkan negara lainnya (Thompson, 1949). Secara umum, tanaman semangka menyerupai tanaman Cucumis, dengan batang bersiku dan sistem perakaran yang luas tetapi dangkal, sehingga selain akar utama, semangka banyak memiliki akar lateral pada top soil. Batang semangka panjangnya dapat mencapai 1.5-5 m (Paje dan Vossen, 1994) dengan pertumbuhan menyerupai semak-semak sehingga dimungkinkan untuk ditanam pada lahan yang relatif sempit. Budidaya tanaman semangka perlu dikembangkan seiring peningkatan pola makan dan kesadaran akan perlunya buah-buahan dalam pemenuhan gizi sehari-hari di Indonesia. Gangguan dalam teknik budidaya, termasuk masalah hama dan penyakit tanaman harus dapat dikendalikan karena dapat menjadi faktor pembatas dan kendala keberhasilan usaha budidaya.

Beberapa penyakit pada tanaman semangka yang dilaporkan di Amerika dan Eropa di antaranya adalah Colletotrichum lagenarium penyebab antraknosa, Pseudoperonospora cubensis penyebab embun bulu, Fusarium oxysporum dan  f.sp. niveum penyebab layu, dan virus mosaik (Budiastuti dkk., 2013). Penyakit layu Fusarium menjadi faktor pembatas utama produksi semangka di banyak wilayah karena menyebabkan kerusakan yang tinggi. Kerugian sebesar 20-30% produksi semangka terjadi di daerah endemik penyakit layu di China (Zhou et al. 2010 dalam Budiastuti dkk., 2013). Patogen ini semakin penting karena kemampuannya membentuk struktur istirahat (klamidospora) yang dapat bertahan lama sehingga tanah yang terinfestasi perlu dibiarkan dalam waktu lama. Penyakit layu pada tanaman semangka di Indonesia banyak ditemukan di lapangan. Identifikasi jenis patogen dan perkembangan penyakit perlu diketahui sebagai tindakan awal dalam menentukan cara pengendalian penyakit yang tepat. Oleh karena itu dilakukan metode pembuktian dengan Postulat Koch yaitu melalui uji patogenisitas cendawan kandidat patogen dan uji kisaran inang cendawan patogen.

II.          PEMBAHASAN

Upaya identifikasi penyebab penyakit layu pada tanaman semangka dilakukan mengikuti tahapan Postulat Koch yang terdiri dari isolasi cendawan patogen, uji patogenisitas cendawan kandidat, dan uji kisaran inang. Isolasi cendawan dilakukan dengan teknik tanam langsung bagian akar dan batang tanaman yang bergejala layu. Isolasi cendawan dari bagian yang menunjukkan gejala layu didapatkan tiga spesies, yaitu Fusarium oxysporum, F. semitectum, dan F. Solani. Fusarium oxysporum dicirikan oleh warna koloni ungu-putih, koloni berdiameter 6 cm setelah 7 hari, monofialid, dan membentuk klamidospora. Fusarium semitectum dicirikan dengan warna koloni putih-kuning dan pada koloni tua berubah menjadi coklat. Diameter koloni sepanjang 7.5 cm setelah berumur 7 hari, polifialid (polyblastic), dan terbentuk klamidospora, namun mikrokonidium jarang ditemukan. Sedangkan, Fusarium solani dicirikan dengan koloni berwarna putih dan yang sudah tua akan berwarna kuning tua, koloni berdiameter 7.5 cm setelah 7 hari, monofialid, serta membentuk klamidospora.

Uji patogenisitas cendawan kandidat patogen dilakukan dengan dua cara, yaitu metode tanah terinvestasi dan metode kertas merang dalam tabung reaksi. Uji tanah terinvestasi dilakukan dengan menanam benih semangka di dalam pot yang telah diisi dengan medium tumbuh yang terdiri atas campuran 2 kg tanah steril, 500 g pasir, dan 100 g biakan isolat dalam jerami. Uji menggunakan metode kertas merang dilakukan dengan menumbuhkan benih semangka di dalam tabung reaksi yang berisi kertas merang lembap steril yang diinokulasi dengan koloni cendawan berdiameter 5 mm. Gejala yang diakibatkan oleh F. oxysporum diawali dengan pertumbuhan tanaman yang kerdil, batang berwarna pucat, menggenting dan rebah. Tanaman semangka yang ditumbuhkan pada medium terinfestasi F. semitectum menimbulkan gejala nekrotik coklat pada batang dan daun layu pada hari ke-16 setelah tanam. Perlakuan media dengan F. Solani menimbulkan gejala yang tidak terlalu parah bila dibandingkan dengan dua jenis Fusarium lainnya, yaitu nekrotik kecoklatan pada daun pertama yang terjadi pada hari ke-27 setelah tanam. Reisolasi cendawan dilakukan terhadap tanaman semangka yang menunjukkan gejala layu dan nekrotik menghasilkan cendawan yang sama, yaitu F. oxysporum, F. solani dan F. semitectum. Setelah hari ke-24, ketiga spesies Fusarium tersebut membentuk miselium dan menutupi seluruh bagian tanaman. F. oxysporum menyebabkan nekrosis coklat pada batang, perlahan-lahan batang membusuk, daun layu dan akhirnya tanaman mati dan kering. Gejala yang disebabkan oleh F. semitectum dan F. Solani masih terbatas nekrotik pada batang dan akar, daun belum terlihat layu. Perkembangan gejala pada tanaman membuktikan bahwa ketiga isolat Fusarium merupakan patogen (Budiastuti dkk., 2013).

Pada uji kisaran inang, cendawan F. oxysporum dan F. Semitectum tidak menyebabkan gejala pada tanaman melon, mentimun, dan paria sampai hari ke-25 setelah inokulasi. Gejala pada tanaman semangka hanya muncul pada perlakuan dengan F. oxysporum berupa gejala layu yang sangat parah dan akhirnya tanaman ditutupi oleh miselium cendawan berwarna putih. F. solani dan F. semitectum tidak menyebabkan gejala penyakit pada tanaman semangka, tidak seperti pada uji patogenisitas sebelumnya. Berdasarkan hasil uji kisaran inang pada melon, mentimun, paria, dan semangka diketahui bahwa spesifikasi F. oxysporum cukup tinggi pada semangka sehingga dapat disimpulkan bahwa cendawan tersebut adalah F. oxysporum f.sp. niveum. Cendawan ini hanya menyerang tanaman semangka dan tidak menyerang Cucurbitaceae lainnya (Snyder dan Hansen, 1941). Pada uji rekasi penyakit tanaman semangka dari berbagai genotip oleh beberapa ras F. oxysporum f.sp. niveum menunjukkan bahwa genotipe semangka yang paling tidak tahan dengan serangan dari F. oxysporum f.sp. niveum adalah Sugar Baby dan yang paling resisten terhadap serangan F. oxysporum f.sp. niveum adalah PI-296341-FR (Zhou et al., 2010).

 III.             KESIMPULAN

Penentuan penyebab layu pada semangka dilakukan dengan uji biologi mengikuti Postulat Koch. Identifikasi cendawan yang berhasil diisolasi dari tanaman ialah Fusarium oxysporum, Fusarium semitectum, dan Fusarium solani. Di antara ketiga cendawan tersebut, Fusarium oxysporum secara konsisten menyebabkan layu yang parah pada tanaman semangka tetapi tidak menimbulkan gejala penyakit pada tanaman melon, mentimun, dan paria. Dua spesies lainnya, Fusarium solani dan Fusarium semitectum, juga menyebabkan layu pada semangka dengan cara menyebabkan nekrotik pada akar dan batang, namun gejalanya berbeda dengan gejala awal saat tanaman sakit diambil dari lapangan. Oleh karena itu, penyebab penyakit layu pada semangka disimpulkan sebagai Fusarium oxysporum f.sp. niveum.


 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s